Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 31 Des 2019 16:18 WIB

Rupiah Paling Kuat di Akhir 2019, Ini Penjelasan BI

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Ilustrasi BI/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tercatat mengalami penguatan di ujung tahun 2019. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) nilai tukar rupiah tercatat Rp 13.901 per dolar AS.

Menanggapi hal tersebut Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah menjelaskan penguatan rupiah yang cukup signifikan di akhir 2019 di bawah 13.900 memang seharusnya terjadi.

"Hal ini karena didukung oleh kondisi faktor global yang mulai kondusif (meskipun tetap harus diwaspadai), pengaruh musiman akhir tahun, valuasi aset finansial domestik yang tetap menarik, serta faktor teknikal," kata Nanang saat dihubungi detikcom, Selasa (31/12/2019).


Dia mengungkapkan selain negosiasi konflik dagang AS-China fase pertama mulai menemukan titik temu dan The Fed yang sudah memberikan sinyal yang jelas mengenai arah pergerakan suku bunga ke depan, sejumlah indikator ekonomi di berbagai negara juga mengindikasikan proses pelemahan yang mereda (turn around).

Menurut dia, ketiga faktor global ini memicu pelepasan instrumen safe haven atau aksi 'flight from quality' dari aset yang dianggap paling aman seperti US Treasury Bond dan emas ke saham dan sebagian besar aset finansial yang dianggap berisiko seperti saham dan aset negara emerging market (EM).

Nanang menjelaskan kondisi global yang mulai berbalik arah tersebut juga memicu para forex traders di pasar keuangan global yang selama ini menumpuk posisi long di spot dan NDF (IDR) karena melihat dolar AS yang akan terus menguat dengan ekspektasi perang dagang AS-China berkepanjangan menjadi berbalik arah dengan melikuidasi (unwinding) posisi long baik di pasar spot maupun NDF.


Tidak mengherankan indeks dolar DXY terus merosot tajam dan terjadi aksi unwinding posisi long NDF dalam jumlah besar besaran, menyebabkan level kurs NDF di pasar luar negeri terus merosot bahkan sering terjadi di bawah kurs spot rupiah.

"Di dalam negeri kurs spot yang turun juga ditopang oleh pasokan devisa dari para eksportir yang terus melakukan penjualan karena ekspektasi rupiah akan menguat," imbuh dia.

Selain itu, bagi para pelaku pasar di domestik terutama treasury bank memelihara posisi long dolar menjadi 'costly' karena menghasilkan negative carry di mana suku bunga dolar yang jauh lebih rendah dari suku bunga rupiah.

"Di tengah menguatnya rupiah, BI akan tetap memantau dan memberikan ruang penguatan rupiah lebih lanjut, yang didukung oleh mekanisme pasar yang berjalan secara efisien," jelasnya.

Simak Video "Mantap! Rupiah Tekuk Dolar AS di Level Rp 13.675"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com