Fed Mulai Berdebat untuk Akhiri Kenaikan Suku Bunga
Rabu, 23 Nov 2005 11:16 WIB
Jakarta - Bank Sentral AS (Federal Reserve/Fed) mulai berdebat untuk mengakhiri rangkaian kenaikan suku bunga AS yang sudah dilakukan sebanyak 12 kali. Perdebatan itu muncul seiring mulai pulihnya perekonomian AS setelah dihantam sejumlah badai.Perdebatan itu terungkap dalam catatan pertemuan terakhir Federal Open Market Committee (FOMC) 1 November lalu atau disebut sebagai Fed Minutes seperti dilansir dari AFP, Rabu (23/11/2005).Dalam pertemuan terakhir, FOMC memutuskan untuk menaikkan kembali suku bunga benchmark AS menjadi 4 persen. Kenaikan tersebut merupakan rangkaian kenaikan sebesar 25 basis poin untuk ke-12 kalinya sejak Juni 2004.Sebelum rangkaian kenaikan itu, suku bunga AS hanya bercokol pada level 1 persen, yang merupakan level terendah sejak 45 tahun terakhir. Sedangkan suku bunga sebesar 4 persen merupakan yang tertinggi sejak Juni 2001.Namun untuk pertama kalinya, anggota FOMC mulai mempertanyakan kapan rangkaian kenaikan suku bunga itu perlu dihentikan. "Beberapa anggota memperingatkan munculnya risiko jika terlalu jauh melakukan proses pengetatan moneter," demikian bunyi dokumen tersebut.Anggota FOMC memberi catatan bahwa kenaikan suku bunga di masa mendatang perlu lebih sensitif terhadap data ekonomi yang terbaru.Dalam pernyataannya 1 November lalu, FOMC mengungkapkan bahwa secara bertahap akan menghilangkan akomodasi suku bunga rendah dari perekonomian, dan menyarankan adanya suku bunga lebih lanjut. Pernyataan tersebut sudah diulang beberapa kali dalam setiap pertemuan FOMC.Hal itu berbeda dengan isu dokumen yang menyatakan bahwa sejumlah anggota FOMC memberikan perspektif yang berbeda-beda tentang masalah pernyataan kebijakan yang diharapkan berkembang dari waktu ke waktu.Keluarnya catatan pertemuan FOMC tersebut langsung merontokkan dolar AS. Para analis kini mulai berdebat soal kemungkinan berhentinya rangkaian kenaikan suku bunga. FOMC rencananya akan menggelar pertemuan kembali pada 13 Desember 2005."Catatan itu sepertinya menjadi kendaraan pilihan FOMC untuk memberi sinyal bahwa kebijakan sudah bergerak pada zona yang netral," kata Chief Economist Nomura, David Resler.Kenaikan suku bunga oleh Fed sendiri selama ini selalu menjadi acuan bagi sebagian besar negara di dunia. Bahkan Bank Indonesia pun terkadang harus mengikuti langkah kenaikan suku bunga untuk mengimbangi kenaikan Fed guna menghindari perburuan dolar.
(qom/)











































