Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 11 Jan 2020 19:20 WIB

Transaksi Non Tunai Digenjot, Bagaimana Nasib Uang Kertas?

Anisa Indraini - detikFinance
Foto: Ardan Adhi Chandra
Makassar - Bank Indonesia (BI) mendorong transaksi non tunai berbasis barcode atau Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di seluruh Indonesia. Dengan begitu diharapkan dapat mempercepat perputaran keuangan.

Seiring dengan digenjotnya transaksi non tunai, bagaimana nasib uang logam dan kertas?

Direktur Eksekutif Departemen Penyelenggaraan Sistem Pembayaran (DPSP) BI Pungky Wibowo mengatakan, uang logam dan kertas tetap ada di tengah makin maraknya transaksi non tunai.

"Uang logam maupun kertas tetap harus ada. Tetap bertumbuh dia (uang logam dan kertas)," kata Pungky dalam media briefing di Maxx Coffee, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (11/1/2020).


Alasannya, transaksi non tunai tidak bisa menyasar seluruh lapisan masyarakat, sehingga keberadaan uang logam dan kertas tetap dibutuhkan.

"Nggak semua orang punya mobile phone (HP). Jadi uang itu tetap ada dan bertumbuh tapi tumbuhnya pelan banget," ucapnya.

Seperti diketahui, saat ini BI sedang gencar sosialisasi penggunaan transaksi non tunai. Upaya ini untuk menjadikan Indonesia sebagai negara mayoritas pengguna uang elektronik.

"(Pengguna) uang elektronik mayoritas harus diambil oleh orang Indonesia," tutur Pungki.



Simak Video "Mendagri Tito Usul Transaksi Nontunai di Lingkungan Pemerintahan"
[Gambas:Video 20detik]
(hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com