Didorong OJK, 134 Bank Sumbang Pengurangan Emisi Karbon

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 13 Jan 2020 06:24 WIB
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Mungkin tak banyak yang tahu kalau perbankan nasional berperan aktif dalam mengurangi emisi karbondioksida (CO2) dalam porsi yang signifikan, yakni mencapai 314 ribu ton.

Pendiri Yayasan Bumi Global Karbon (BGK), Achmad Deni Daruri, mengatakan menurut penelitian dan perhitungan Bumi Global Karbon Foundatioan (BGKF) berdasarkan estimasi dengan metode ISO 14064 dan analisis regresi-korelasi, total 134 bank telah menyumbangkan penurunan sekitar 314 ribu ton CO2eq.

Capaian ini, menurutnya, cukup positif dalam rangka mewujudkan Nationally Determine Contribution, atau rancangan aksi national penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 29% dalam negeri dan 41% dengan bantuan luar negeri.

"Hal itu sesuai Paris Agreement yang ditandatangani Presiden Jokowi dan sudah menjadi UU No 16 Tahun 2016," kata Deni, Senin (13/1/2020).

Total penurunan 314 ribu ton emisi GRK oleh 134 bank tersebut, kata Deni, belum termasuk program Corporate Sosial Responsibility (CSR) yang ditujukan kepada kegiatan lingkungan, kegiatan inklusi keuangan, Laku Pandai, dan pembiayaaan Project Green dari perbankan.

Hanya saja, kata Deni yang juga Presiden Direktur Center of Banking Crisis (CBC) itu, belum semua bank bank membuat Sustainaibility Report (laporan berkelanjutan).

Menurutnya, Sustainaibility Report (SR) menyangkut tiga hal yakni ekonomi, lingkungan dan sosial. Jika dirincikan lebih detil terdiri dari 17 item pencapaian sesuai SDGs, merupakan amanat Perpres No 59 Tahun 2017.

Laporan tersebut mencantumkan perhitungan emisi GRK dan dan kegiatan penurunan emisi yang telah dilakukan.

OJK selama ini mendukung pengurangan efek rumah kaca melalui Peraturan OJK (POJK) No 51 Tahun 2017. Dalam aturan itu seluruh industri keuangan wajib membuat laporan berkelanjutan (SR).


Ia mengatakan, jika seluruh industri keuangan telah membuat SR, GRI standar dan sesuai aturan, maka akan memberikan manfaat signfikan terhadap negara khususnya OJK.

"Karena dapat memonitor pencapaian SDG's untuk industri keuangan," jelasnya.

Setelah itu, kata dia, dapat dibuat baseline penurunan emisi GRK untuk tahun berikutnya. Mendorong carbon trading bagi debitur perbankan atau perbankan yang memiliki emisi GRK berskema offset untuk industri lain yang belum mencapai target pemenuhan pengurangan emisi.

"Seluruh industri keuangan dapat masuk ke Index Green dunia, khususnya yang sudah go public. Dan, sustainaibility investor dunia akan semakin tertarik masuk ke Indonesia. Tentunya menjalin kerja sama dengan perusahaan Indonesia yang memiliki cita cita sama yakni sustainability," pungkasnya.



Simak Video "Anjlok! Pertumbuhan Kredit Bank Tahun 2019 Hanya 6,08%"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)