Mencari Titik Terang dari Masalah Jiwasraya dan Asabri

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Sabtu, 18 Jan 2020 19:30 WIB
Foto: Ari Saputra
Jakarta - PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asabri (Persero) banyak dibahas orang akhir-akhir ini. Berbagai pihak menyampaikan pandangannya soal apa yang terjadi di dua perusahaan asuransi BUMN itu. Ada masalah apa sih di dua perusahaan ini?

Masalah di Jiwasraya bukan baru-baru aja terjadi. Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan masalah Jiwasraya sudah terjadi sejak 10 tahun lalu.

"Ini persoalan yang sudah lama sekali, 10 tahun yang lalu. Problem ini yang dalam 3 tahun ini kita sudah tahu dan ingin menyelesaikan masalah ini," kata Jokowi di Novotel Balikpapan, Kaltim, Rabu (18/12) lalu.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) juga turun tangan menangani kasus gagal bayar di Jiwasraya. BPK bilang BUMN ini sudah bermasalah sejak 2006 atau sekitar 14 tahun yang lalu.

Ketua BPK Agung Firman Sampurna pernah mengatakan Jiwasraya rugi Rp 13,7 triliun per September 2019 dan di November ekuitas negatif Rp 27,7 triliun. Jiwasraya juga dihadapkan dengan kewajiban pengembalian dana nasabah yang mencapai Rp 12,4 triliun. Dana itu merupakan akumulasi kewajiban pencairan klaim polis yang gagal dibayar perusahaan sampai periode Oktober-Desember 2019.


JS Saving Plan menjadi akar dari permasalahan gagal bayar Jiwasraya. JS Saving Plan merupakan produk asuransi yang menawarkan jaminan diri dan investasi di masa depan. Produk ini ditawarkan Jiwasraya dengan menggandeng banyak bank.

Gampangnya, perseroan menawarkan produk dengan imbal hasil tinggi sekitar 9-13%. Tawaran ini disambut baik banyak nasabah karena iming-iming yang lebih tinggi dari bunga deposito yang saat ini paling tinggi berada di level 6%. Banyak nasabah yang membeli produk ini dengan harapan mendapatkan keuntungan investasi di masa depan.

Uang nasabah kemudian ditempatkan ke instrumen investasi oleh Jiwasraya. Sayangnya, hasil investasi ini menyusut alias boncos. Jiwasraya berinvestasi di reksa dana dan saham yang hasilnya kian menunduk. Terlebih lagi ada yang ditempatkan di saham gorengan.

Kewajiban perseroan untuk mencairkan polis nasabah kian dekat, tapi duitnya nggak ada. Nasabah pemegang polis Jiwasraya tak cuma warga negara Indonesia (WNI), ada juga WNA dengan salah satu yang terbanyak adalah warga Korea Selatan (Korsel).

Selanjutnya
Halaman
1 2 3