Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 22 Jan 2020 20:53 WIB

Kinerja 2019 BNI, Bisnis Internasional Semakin Tangguh

Alfi Kholisdinuka - detikFinance
Foto: Dok BNI-Jajaran Direksi BNI pada Paparan Kinerja BNI Full Year 2019 di Jakarta, Rabu (22/1/2020).
Jakarta -

Kinerja kredit PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI pada tahun 2019 tidak terlepas dari ketangguhan bisnis internasionalnya yang dijalankan oleh kantor-kantor BNI cabang luar negeri.

Bisnis Penyaluran Kredit atau pelayanan digital yang membuahkan Fee Based Income (FBI) yang dihimpun kantor-kantor BNI cabang luar negeri, sama-sama memberikan kontribusi yang signifikan terhadap bisnis BNI secara keseluruhan. Bisnis internasional BNI menyumbangkan penyaluran kredit yang tumbuh menjadi Rp 41,65 triliun, plus setoran FBI yang menyumbangkan 27,4% dari total non interest income BNI.

Bisnis internasional PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI semakin dapat diandalkan dan menjadi unsur pembeda utama antara BNI dengan bank-bank yang berbasis pada pembiayaan korporat lain di Indonesia. BNI tidak hanya merupakan bank korporat yang melayani nasabah lokal, melainkan juga nasabah lokal yang beranjak menjadi pebisnis global.

Dari seluruh nasabah korporat BNI, sebanyak 15 - 25% diantaranya adalah para pebisnis global. Untuk itu, keberadaan kantor BNI Cabang luar negeri diperlukan untuk memenuhi kebutuhan transaksi para nasabah BNI yang bermain global. Dengan demikian keberadaan kantor BNI cabang luar negeri adalah To Follow the customer and follow the trade.

Keberadaan kantor cabang luar negeri juga memberikan dampak positif bagi Indonesia dalam rangka memfasilitasi perolehan devisa. Kantor-kantor BNI cabang luar negeri tersebut telah mencatatkan profit, sehingga terdapat sumber devisa baru untuk Indonesia yaitu pajak. Kapabilitas kantor BNI cabang luar negeri juga dapat menyalurkan kredit kepada para eksportir Indonesia, dan dengan cara ini, ada kepastian devisa yang dihasilkan dari perdagangan luar negeri tersebut.

BNI optimis telah berada pada jalur yang seharusnya dalam pengembangan bisnis internasionalnya. Ini terlihat dari pertumbuhan CAGR aset pada periode 2014 - 2019 yang mencapai 20,6% per tahun. Pada periode yang sama, kredit yang disalurkan pun tumbuh CAGR 30,7% per tahun, dan pertumbuhan CAGR FBI sebesar 8,6% per tahun. Pada 5 tahun terakhir ini, kantor-kantor BNI cabang luar negeri mencatat pertumbuhan laba sebelum pajak (EBT) sebesar 45,5% per tahun.

Kinerja kantor - kantor BNI cabang luar negeri tahun 2019 menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Kredit yang disalurkan melalui kantor BNI cabang luar negeri tumbuh 9,9% year on year (yoy) yaitu dari Rp 38,59 triliun pada tahun 2018 menjadi Rp 42,39 triliun pada akhir tahun 2019.

Terkait dengan funding, kantor-kantor BNI cabang luar negeri kini semakin mandiri karena ketergantungan pendanaan dari kantor pusat semakin menurun. Dimana sebelum tahun 2014, 80% sumber pendanaan kantor BNI cabang luar negeri masih berasal dari kantor pusat di Jakarta. Pada tahun 2019, tinggal 40%.

Kredit BNI

Di tengah kondisi perekonomian yang menantang, mesin bisnis BNI masih tetap tangguh di sepanjang tahun 2019. Hal tersebut ditunjukkan dengan pertumbuhan kredit sebesar 8,6% yoy, yaitu dari Rp 512,78 triliun pada akhir 2018 menjadi Rp 556,77 triliun pada akhir 2019. Pertumbuhan kredit BNI tersebut masih berada di atas pertumbuhan kredit industri yaitu sebesar 6,5% hingga Oktober 2019.

Dengan pertumbuhan kredit tersebut, BNI mencatatkan Pendapatan Bunga Bersih (NII) sebesar Rp 36,6 triliun pada akhir tahun 2019 atau tumbuh 3,3% dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp 35,45 triliun. Pertumbuhan NII tersebut mampu menjaga ROE pada posisi 14% di akhir tahun 2019.

Kredit BNI tersebut tersalurkan ke Segmen Kredit Kecil yang pada Desember 2019 tumbuh 14,2% menjadi Rp 75,4 triliun dari sebelumnya Rp 66,06 triliun pada Desember 2018. Pertumbuhan yang menonjol terjadi pada penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang meningkat dari Rp 16 triliun pada tahun 2018 menjadi Rp 17,7 triliun pada akhir tahun 2019. Penyaluran KUR BNI ini mendapatkan penghargaan sebagai bank penyalur KUR terbaik tahun 2019 dari Kementerian Koordinator Perekonomian.

Guna mendukung ekspansi pada kredit kecil, BNI meningkatkan jumlah outlet yang diberikan kewenangan untuk dapat menyalurkan kredit kecil. Sebelumnya pada tahun 2017, jumlah outlet yang dapat menyalurkan kredit kecil hanya 197 outlet, kini telah mencapai 289 outlet di seluruh Indonesia.

BNI juga mencatat penyaluran kredit yang tumbuh ke Segmen Kredit Konsumer, yaitu sebesar 7,7% yoy diatas tahun 2018 menjadi Rp 85,87 triliun. Dimana Kredit Tanpa Agunan masih menjadi kontributor utama terhadap pertumbuhan kredit konsumer BNI, yaitu tumbuh 11,7% yoy menjadi Rp 2,7 triliun.

BNI juga fokus pada penyaluran kredit pemilikan rumah atau BNI Griya karena komposisi kredit ini terhadap total Kredit Konsumer mencapai 51,4% atau mencapai Rp 44 triliun. BNI Griya tumbuh 8,3% yoy berkat berbagai perbaikan yang telah dilakukan antara lain ekspansi pada kaum milenial selaras dengan program pemerintah.

Kredit BNI juga tersalurkan ke Segmen Kredit Korporasi yang tumbuh 9,8% yoy. Kredit korporasi terutama disalurkan ke sektor usaha manufaktur, serta listrik, gas, dan air. Pinjaman infrastruktur masih menjadi salah satu prioritas dalam menumbuhkan pinjaman segmen bisnis korporasi ini, salah satunya adalah proyek jalan tol. Pembiayaan jalan tol yang dilakukan BNI difokuskan pada ruas-ruas tol dengan tingkat LHR yang tinggi, yaitu terutama ruas-ruas tol di Pulau Jawa.

Pendapatan Non Bunga

Bisnis BNI pun terus berjalan dengan dukungan pendapatan non bunga atau FBI yang tercatat sebesar Rp 11,36 triliun atau tumbuh 18,1% di atas periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp 9,62 triliun. Pertumbuhan FBI ini ditopang oleh pertumbuhan recurring fee sebesar 17,7% yoy. Sekitar 27,4% dari FBI yang terhimpun, berasal dari aktivitas bisnis internasional BNI melalui kantor-kantor BNI cabang luar negeri.

Kenaikan FBI dikontribusi oleh pertumbuhan pada Segmen Konsumer Banking, yaitu komisi dari pengelolaan kartu debit yang tumbuh 39,6%; komisi pengelolaan rekening yang naik 16,3% yoy; komisi ATM yang meningkat 13,2% yoy; dan komisi bisnis kartu kredit tumbuh 10,6% yoy. FBI juga ditopang oleh aktivitas pada Segmen Bisnis Banking yang menghasilkan komisi dari surat berharga yang tumbuh 86,9% yoy; komisi kredit sindikasi tumbuh 56,8% yoy; serta komisi trade finance yang meningkat 4,8% yoy.

Akumulasi NII dengan FBI tersebut di atas membawa BNI sukses meraup Laba Operasional sebelum Pencadangan (PPOP) pada akhir tahun 2019 sebesar Rp 28,32 triliun atau tumbuh 5,0% yoy, dan membukukan laba bersih sebesar Rp 15,38 triliun atau meningkat 2,5% dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp 15,02 triliun.

DPK

Pertumbuhan bisnis BNI tersebut didukung oleh pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) berbiaya rendah pada tahun 2019. DPK BNI pada akhir tahun 2019 terhimpun sebesar Rp 614,31 triliun atau tumbuh 6,1% dibandingkan periode yang sama tahun 2018 sebesar Rp 578,78 triliun. DPK tersebut terutama ditopang oleh pertumbuhan giro sebesar 22,3% yoy. Dana murah yang terhimpun tersebut memperbaiki rasio CASA BNI menjadi 66,6%. Membaiknya CASA tersebut menyebabkan BNI dapat menjaga cost of fund terjaga pada level 3,2%.

Berbagai usaha dilakukan untuk mendorong pertumbuhan CASA, yaitu meningkatkan jumlah branchless banking dari 112.000 menjadi 157.000 Agen46. Penambahan jumlah rekening juga menjadi sumber peningkatan CASA. Pada akhir tahun 2018, jumlah rekening masih sebanyak 43,5 juta rekening, namun pada akhir tahun 2019 bertambah menjadi 46,6 juta rekening.

Agen46 merupakan kepanjangan tangan BNI dalam memberikan layanan perbankan kepada masyarakat yang memiliki keterbatasan akses ke outlet-outlet BNI. Agen46 merupakan simbol suksesnya Program Laku Pandai yang digagas Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dilaksanakan oleh BNI selama ini.

Pencapaian tersebut juga diperkuat oleh CAR yang membaik dari 18,5% menjadi 19,7%, sehingga sangat layak untuk menopang pertumbuhan bisnis BNI ke depan. Inisiatif efisiensi terus berjalan dengan baik dan diharapkan akan tercermin dalam peningkatan Cost to Income Ratio,yang akan dipertahankan di level 43% -44%. Hal ini juga disebabkan oleh keberhasilan BNI dalam menjaga pertumbuhan Biaya Operasional (OPEX) stabil pada level 8,7%.

Aset Tumbuh

Pada akhir 2019, BNI mencatatkan Total Aset sebesar Rp 845,61 triliun atau tumbuh 4,6% yoy dibandingkan akhir 2018 yang mencapai Rp 808,57 triliun. Kontribusi kelima Anak Usaha terhadap kinerja BNI tumbuh 33,3% secara yoy. Kinerja Anak Usaha berhasil menyumbang 11,6% dari laba yang diperoleh oleh BNI Grup.



Simak Video "Sah! Agus Martowardojo Jadi Komut BNI"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com