Sepanjang 2019 Laba BRI Tembus Rp 34 T

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 23 Jan 2020 17:07 WIB
Foto: RUPS Tahunan BRI (Sylke Febrina Laucereno/detikFinance)
Jakarta -

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 34,41 triliun sepanjang 2019, tumbuh 6,15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama BRI Sunarso mengungkapkan untuk pertumbuhan aset Rp 1.418,95 triliun tumbuh 9,41% dibanding aset 2018 Rp 1.296,9 triliun.

Kemudian untuk Fee Based Income (FBI). Hingga akhir Desember 2019, perolehan FBI BRI tercatat Rp 14,29 Triliun atau tumbuh 20,1% yoy.


Dengan pertumbuhan FBI yang signifikan ini, untuk pertama kalinya bagi Bank BRI Fee Income to Total Income Ratio mencapai double digit sebesar 10%.

"Melalui inovasi dan digitalisasi, perseroan terus menciptakan sumber sumber pendapatan berbasis non bunga untuk menjaga tingkat profitabilitas," kata Sunarso dalam konferensi pers di kantor BRI, Jakarta, Kamis (23/1/2020).

Salah satu inovasi produk dan layanan yang memberikan dampak secara nyata bagi pertumbuhan FBI BRI adalah Agen BRILink. Hingga akhir tahun 2019, tercatat Bank BRI memiliki 422 ribu agen dengan transaksi mencapai 521 juta kali transaksi finansial dengan volume mencapai Rp 673 Triliun atau tumbuh 31,2% yoy.

"FBI yang dihasilkan oleh Agen BRILink tercatat mencapai Rp 788,7 Miliar atau tumbuh 75% yoy," imbuh Sunarso.

Pada sisi permodalan, BRI mencatat rasio CAR 22,77% yang mencerminkan modal BRI cukup kuat untuk melakukan ekspansi baik dalam jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang. Secara likuiditas, BRI masih mempunyai ruang tumbuh dimana rasio likuiditas BRI di akhir tahun 2019 terjaga di level 88,98%.


Hingga akhir Desember 2019 tercatat penyaluran kredit BRI mencapai Rp 908,88 Triliun atau tumbuh 8,44% year on year, di atas rata rata industri perbankan yang tumbuh sebesar 6,08%.

Pada sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), hingga akhir tahun 2019, DPK BRI berhasil menembus angka di atas Rp 1.000 triliun yakni mencapai Rp 1.021,39 triliun atau naik sebesar 8,17% yoy.

Dana murah (CASA) masih mendominasi portofolio simpanan BRI, mencapai 57,71% dari total DPK atau senilai Rp 589,46 Triliun.

Sunarso juga menjelaskan bahwa di tahun 2020 BRI akan fokus menggarap CASA untuk mengoptimalkan pertumbuhan dana melalui transaction banking di perkotaan maupun melalui micro saving dan micro payment di segmen mikro.

Namun demikian, BRI tak bisa berpuas diri. Dari data laporan keuangan pertumbuhan laba ini lebih lambat dibandingkan periode 2018 yang tumbuh 11,6%. Kemudian 2017 laba tumbuh 10,7%.

Sunarso mengungkapkan pertumbuhan laba yang berada di level single digit terjadi karena rendahnya pertumbuhan kredit nasional.

"Karena semua indikatornya lebih rendah, loan growth nasional hanya 6,08%. Sementara kita mampu tumbuh 8% itu sudah bagus di atas rata-rata industri. Karena kredit menurun, labanya lebih lambat, maka make sense," kata Sunarso.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Keuangan BRI Haru Koesmahargyo mengungkapkan lambatnya pertumbuhan laba ini memang terjadi karena pertumbuhan kredit yang lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

Kemudian juga karena non performing loan (NPL) yang meningkat, sehingga perseroan harus menambah cadangan untuk bisa mengcover risiko likudiitas.

"Karena itu laba tumbuh di kisaran 6% secara konsolidasi jadi saya kira masih di atas rata-rata," jelasnya.

Hingga akhir Desember 2019 tercatat penyaluran kredit BRI mencapai Rp 908,88 Triliun atau tumbuh 8,44% year on year, diatas rata rata industri perbankan yang tumbuh sebesar 6,08%.

Pada sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), hingga akhir tahun 2019, DPK BRI berhasil menembus angka di atas Rp 1.000 triliun yakni mencapai Rp 1.021,39 triliun atau naik sebesar 8,17% yoy.

Sepanjang 2019 Laba BRI Tembus Rp 34 T



Simak Video "Teras BRI Kapal, Penjaga Kedaulatan Rupiah di Perbatasan"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/dna)