Bank Sentral Eropa Naikkan Suku Bunga, Euro Malah Tumbang
Jumat, 02 Des 2005 10:36 WIB
Jakarta - Bank Sentral Eropa (ECB) akhirnya menaikkan tingkat suku bunga untuk pertama kalinya setelah lima tahun sebesar 25 basis poin menjadi 2,25 persen. Namun hasilnya, mata uang euro justru tumbang.Kenaikan suku bunga itu diambil dalam pertemuan rutin bulanan yang digelar ECB pada Kamis 1 Desember waktu setempat seperti diberitakan AFP, Jumat (2/12/2005).Kenaikan suku bunga itu diharapkan dapat menekan inflasi di 12 negara Eropa sehingga pemulihan ekonomi bisa berlanjut.ECB juga menaikkan dua suku bunga kunci untuk menjaga euro sebesar 25 basis poin menjadi 1,25 persen untuk suku bunga tabungan dan 3,25 persen untuk suku bunga kredit marjinal.Euro pun langsung tumbang pada akhir perdagangan kemarin di level 1,1734 dolar, dibandingkan sebelumnya di 1,1788 dolar di New York.Gubernur ECB Jean-Claude Trichet mengatakan, meski ada kenaikan suku bunga, namun kebijakan moneter yang diambil ECB tetap akomodatif.Trichet menegaskan, ECB belum mengambil keputusan untuk melakukan rangkaian kenaikan suku bunga seperti yang dilakukan Bank Sentral AS (Federal Reserve)."Kami belum merencanakan rangkaian kenaikan suku bunga. Kebijakan kami tetap akomodatif dan berlanjut untuk memberikan dukungan pada aktivitas ekonomi yang berkesinambungan dan penciptaan lapangan kerja," ujar Trichet.Menteri Keuangan Austria Karl-Heinz Grasser pun langsung bereaksi. Berbicara di Milan, Grasset menegaskan, kenaikan suku bunga itu tidak akan cukup untuk melawan inflasi dan menyumbang pertumbuhan."Trichet terdengar cukup netral dengan memberikan sinyal tidak akan melakukan rangkaian kenaikan suku bunga, kecuali ada peningkatan risiko terhadap stabilitas harga," ujar kepala riset valas di CALYON, Mitul Kotecha.Menurut Mitul, euro justru melemah karena kurangnya kekuatan dari pernyataan yang diberikan oleh ECB. Selain itu, euro semakin melemah setelah ECB menegaskan tidak akan ada rangkaian kenaikan suku bunga.Sejak tahun lalu hingga saat ini, euro tercatat terdepresiasi sekitar 10 persen. Pada September lalu, euro bahkan mencatat posisi terendahnya dalam dua tahun di level 1,1664 dolar.Melemahnya euro itu dipicu oleh terus naiknya suku bunga Fed yang semakin menjauhi level bunga yang ditetapkan ECB. Sejumlah kalangan pun mengkritik ECB yang terkesan tidak mengambil langkah yang cepat untuk mengimbangi kenaikan Fed.
(qom/)











































