Corona Bisa Paksa Wall Street Tutup?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 11 Mar 2020 09:55 WIB
Rambu jalan menunjuk bursa saham New York atau yang dikenal sebagai Bursa Saham Wall Street.
Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada hari Senin (9/3) mencetak rekor penurunan yang diakibatkan oleh turunnya harga minyak dan kekhawatiran akan penyebaran virus corona. Bahkan, kepanikan akan penyebaran wabah tersebut membuat beberapa bank-bank di Wall Street mengevakuasi kantor mereka.

Bank-bank kelas dunia di distrik tersebut sudah mengambil langkah untuk mengurangi risiko penyebaran virus corona pada karyawannya. Beberapa perusahaan bahkan menguji coba fasilitas untuk bekerja di rumah menggunakan situs dan sistem lainnya.

Dilansir CNN, Rabu (11/3/2020), bank terbesar di AS, JPMorgan Chase (JPM) mulai memisahkan kantor sales dengan tim perdagangannya. JPMorgan menginformasikan aksi ini pada karyawannya sebagai tindakan pencegahan dan memastikan kinerja perusahaan tetap berjalan normal. Beberapa kantor alternatif sudah dioperasikan seperti di Brooklyn, New Jersey, dan Basingstoke yang berjarak 50 mil barat daya London.

Tak hanya itu, Bank of America (BAC) juga memisahkan kantor tim yang mengelola pendapatan tetap dan tim perdagangan ekuitas sejak Senin (9/3) lalu. Beberapa staf telah dikirim ke Stamford, Connecticut. Upaya antisipasi ini juga dilakukan oleh Deutsche Bank (DB) yang telah memecah tim operasi dan perdagangan di London, serta merumahkan beberapa karyawan.

Goldman Sachs (GS) telah menjalankan operasional perusahaan melalui pekerjaan yang dilakukan dari rumah.

Langkah preventif juga dilakukan oleh HSBC. Bahkan, bank tersebut membersihkan lantai kantor pusatnya di London ketika seorang karyawannya dinyatakan terjangkit virus corona. HSBC juga memerintahkan kantor cabangnya di Asia untuk memisahkan kegiatan masing-masing tim tanpa mengganggu layanan di Eropa.

Perusahaan investasi Blackrock (BLK) mengumumkan terdapat seorang karyawan di kantornya di New York telah didiagnosis virus corona dan sedang bekerja dari rumah. Perusahaan mengatakan telah melakukan pembersihan mendalam di daerah tempat orang tersebut bekerja, dan memerintahkan orang-orang yang telah melakukan kontak dekat untuk bekerja dari rumah selama 14 hari.

"Kinerja perusahaan kami tetap berjalan sesuai rencana. Kami juga telah menetapkan alternatif operasional dengan memerintahkan tim untuk bergantian kerja dari kantor, dan dari rumah untuk membatasi potensi paparan," tulis keterangan resmi Blackrock.

Penyebaran virus corona ini merupakan tantangan terbesar bagi industri keuangan di Wall Street sejak serangan teroris pada 11 September 2001, dan Badai Sandy pada Oktober 2012.

Beberapa rutinitas seperti melakukan transaksi di ruangan besar, di mana para karyawan berkerumun untuk bertransaksi saham, obligasi, dan mata uang, serta komoditas tampaknya sudah tak bisa lagi dilakukan. Terutama ketika jumlah penyebaran virus corona di New York dan London terus bertambah. Hal ini melelahkan bagi bank-bank kelas dunia tersebut, sebab harus mencari alternatif operasional agar tetap berjalan, dan berurusan dengan kekalahan pasar saham global.



Simak Video "Kasus Aktif Covid-19 Indonesia di Bawah Rata-rata Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)