Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 07 Apr 2020 15:48 WIB

BNI Cetak Laba Rp 2,5 T Per Akhir Februari 2020

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
RUPS BNI Ilustrasi Laporan Keuangan BNI
Jakarta -

PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) pada periode Januari-Februari 2020 mencatatkan laba bersih Rp 2,58 triliun. Angka ini meningkat 22,27% dibandingkan periode yang sama tahun 2019 sebesar Rp 2,11 triliun.

Direktur Tresuri dan Internasional BNI, Putrama Wahju Setyawan mengungkapkan pertumbuhan ini lebih tinggi dibanding laba bersih industri perbankan yang hanya tumbuh 8,25% dan bank umum kelompok usaha (BUKU) IV tumbuh 19,08% sesuai dengan statistik perbankan Indonesia (SPI).

"BNI terus mencermati perkembangan yang ada dan tetap tumbuh dengan manajemen risiko di tengah ketidakpastian akibat wabah Covid 19," kata Putrama dalam siaran pers, Selasa (7/4/2020).

Putrama mengungkapkan laba bersih ini ditopang dari kenaikan pendapatan bunga bersih sebesar Rp 5,92 triliun tumbuh 15,85% dibandingkan periode 2019 sebesar Rp 5,11 triliun.

Untuk pendapatan komisi dan administrasi atau fee based income tercatat Rp 1,44 triliun. Total aset BNI per Februari 2020 tercatat Rp 788,72 triliun tumbuh 9,72% dibandingkan periode Februari 2019 sebesar Rp 718,82 triliun.

Kenaikan aset ini didukung oleh penyaluran kredit menjadi Rp 529,53 triliun naik 11,8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 473,61 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) tercatat Rp 573,3 triliun tumbuh 9,83% dibanding 2019 sebesar Rp 521,97 triliun.

Menanggapi hal tersebut Head of Investment PT Avrist Asset Management Farash Farich mengatakan hal ini merupakan sinyal positif untuk bank bisa tumbuh di awal tahun. Meski tantangannya semakin berat ke depannya, terutama karena perlambatan ekonomi akibat penyebaran virus ini.

"Dari sisi valuasi BNI termasuk yg sudah sangat rendah, Price to book 0.65x, di bawah standar deviasi historisnya," kata Farash.

Hal ini bisa menjadi momen investor untuk mengoleksi saham BNI, apalagi dengan PBV saat ini yang menandakan saham bank pelat merah ini tengah undervalue. PBV adalah penilaian harga saham dengan nilai buku perusahaan. Biasanya, saham yang memiliki rasio PBV besar, punya valuasi tinggi (overvalue) sedangkan saham dengan PBV di bawah 1 kali, punya valuasi murah.

"Kemungkinan untuk valuasi kembali lebih rendah tetap ada. Tapi paling tidak valuasi saat ini sudah cukup menarik. Namun untuk antisipasi kemungkinan harga bisa lebih turun bisa dilakukan pembelian bertahap," ujarnya.

Dia menilai saham BNI menarik dikoleksi untuk investor jangka panjang. Pasalnya dengan kondisi saat ini, dan adanya pandemi Covid 19 industri perbankan pun tertekan. Saham BNI sendiri pernah mencapai PBV seperti ketika krisis 2008.

Saham bank dengan aset terbesar keempat ini tetap menarik perhatian investor, terutama investor domestik dengan nilai pembelian Rp 224,7 miliar, dan pembelian investor asing Rp 40,1 miliar.

Pada penutupan perdagangan Senin, 6 April 2020 saham BBNI ditutup Rp 4.290/saham, melonjak hampir 7% dibandingkan penutupan Jumat 3 April 2020 sebesar Rp 4.010/saham.

Dengan catatan Loan to deposit ratio (LDR) yang bagus 2019, BNI memiliki ruang gerak yang cukup lebar untuk meningkatkan portofolio kreditnya. Hal ini tercermin dari penyaluran kredit BNI melesat 11,8% menjadi Rp 529,53 triliun, dibandingkan periode yang sama 2019 senilai Rp 473,61 triliun.



Simak Video "Berbagi Optimisme di Tengah Pandemi dengan Gerakan #AntarkanSemangat"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com