Rupiah Melorot ke 9.787/US$
Selasa, 13 Des 2005 18:00 WIB
Jakarta - Konsolidasi menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) membawa nilai tukar rupiah pada akhir perdagangan Selasa (13/12/2005) pukul 17.00 WIB kembali melemah ke level 9.787 per dolar AS.Meski sempat dibuka menguat di level 9.730 per dolar AS, namun rencana kenaikan suku bunga yang kemungkinan akan diputuskan dalam pertemuan FOMC terus menekan rupiah.Bank Sentral AS (Fed) sendiri diperkirakan akan melanjutkan rangkaian kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin ke-13 kalinya dalam pertemuan yang berlangsung hari ini. Ekonom sendiri tetap meyakini suku bunga AS yang saat ini bercokol di level 4 persen akan kembali naik.Namun para ekonomi memrediksi, para anggota FOMC akan berdebat soal bahasa pengakhiran rangkaian kenaikan suku bunga. Pertemuan itu juga menjadi penting menjelang lengsernya Gubernur Bank Sentral AS, Alan Greenspan.Selain antisipasi menunggu hasil FOMC, pelemahan rupiah juga karena aksi profit taking setelah penguatan yang cukup tajam pada pekan lalu.Ekonom Faisal Basri justru menilai, pelemahan rupiah akan membawa keuntungan bagi beberapa pihak. "Dengan rupiah melemah keuntungannya TKI dapat uang lebih banyak. eksportir juga dapat uang lebih banyak. Kalau rupiah menguat, justru impor lebih murah dan banyak," kata Faisal dalam pemaparan outlook ekonomi di Hotel Grand Hyatt.Untuk itu, Faisal berpendapat BI tidak perlu mengerek suku bunga terlalu tinggi untuk mendongkrak rupiah. Faisal juga menilai, penguatan rupiah yang terjadi pekan lalu sebenarnya tidak didukung fundamental yang kuat, kecuali berita reshuffle."Jadi euforia penguatan rupiah akan cepat mereda karena tidak ada underlying forex. Anda lihat ekspor kita juga masih lemah," ujarnya. Menurutnya, penguatan rupiah juga akan mematikan ekspor.
(qom/)











































