Aslim: Kenaikan Fed Sudah Diperhitungkan dalam BI Rate
Rabu, 14 Des 2005 12:59 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) tidak akan tergopoh-gopoh menaikkan suku bunga setelah Bank Sentral AS (Fed)kembali menaikkan suku bunga menjadi 4,25 persen. Ini karena dalam kenaikan BI rate terakhir (12,75 persen) sudah memperhitungkan keputusan Fed tersebut.Demikian disampaikan Deputi Gubernur BI Aslim Tadjudin usai workshop Prospek Dunia Usaha dan Potensi Pembiayaan oleh Perbankan di Sektor Batubara di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (14/12/2005).Aslim menegaskan, BI rate akan tetap lebih menarik investor kendati Fed menaikkan suku bunga. Sebab perbedaan suku bunganya atau spread-nya masih cukup besar yakni 8,5 persen."Saya kira BI rate masih akan menarik para investor karena kenaikan SBI menjadi 12,75 persen itu sudah merupakan antisipasi dari rencana kenaikan suku bunga Fed," kata Aslim. Ditambahkannya, investor asing melihat makro ekonomi Indonesia masih lebih baik pada tahun 2006 nanti. Hal itu berkaitan dengan kebijakan moneter ketat yang akan diberlakukan BI hingga pertengahan tahun 2006. "Oleh karenanya secara makro ekonomi kita akan lebih stabil dan tetap menguat," ujar Aslim.Kebijakan makro itu, menurut Aslim, dengan sendirinya akan mendorong penguatan kurs rupiah yang disebabkan masuknya arus modal dari luar negeri yang berjangka pendek di SBI. "Dengan SBI saat ini saja, dana investor asing masuk sekitar Rp 15 triliun. SUN sekitar Rp 31 triliun. Belum lagi di pasar modal. Jadi masih akan lebih baik," tambah Aslim.Kondisi tersebut diyakininya akan dapat memperbaiki fundamental ekonomi dan meningkatkan ekspor. Karena diprediksikan pada akhir tahun 2005, rupiah masih akan tetap menguat dan stabil di level 9.700-9.800 per dolar AS. "Kalau soal tahun depan, kita masih lihat dulu. Tapi tentunya prospeknya lebih bagus," ujar Aslim.
(qom/)











































