Inflasi Mengancam Jika BI Cetak Uang Rp 600 T, Ini Solusi DPR

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Minggu, 03 Mei 2020 23:00 WIB
Seorang petugas mengangkut uang rupiah di sentra kas Bank BRI, di Jakarta, Rabu (28/8/2013). Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat membuat beban utang luar negeri bertambah. File/detikFoto.
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Badan Anggaran (Banggar) DPR RI memberi masukan agar Bank Indonesia (BI) mencetak uang sampai Rp 600 triliun untuk turut serta dalam menangani dampak Corona. Dalam cetak duit ini, inflasi menjadi sering disebut menjadi ancaman. Apa kata DPR?

Ketua Badan Anggaran MH Said Abdullah mengatakan, dalam cetak uang ini inflasinya bisa dihitung. Dia bilang, dengan BI mencetak uang Rp 600 triliun maka inflasinya diperkirakan 5-6%.

"Kalau nyetak uang Rp 600 triliun kemudian seakan-akan uangnya banjir, tidak juga. Hitungan kami kalau BI nyetak Rp 600 triliun itu inflasinya sekitar 5-6%, tidak banyak. Masa Rp 600 triliun tiba-tiba inflasi akan naik 60-70% dari mana hitungannya," katanya kepada detikcom, Minggu (3/5/2020).

Dia mengatakan, kondisi saat ini ialah kegentingan yang memaksa. Menurutnya, perlu peran BI untuk membantu pemerintah dalam mengatasi dampak Corona.

"Karena kegentingan memaksa tahun ini saja supaya apa yang direncanakan dimasukkan refocusing, realokasi dilakukan pemerintah Rp 405 triliun berjalan sesuai target pemerintah maka perlu BI diharapkan peran sentralnya sebagai the last resource, nyetak uang doang Rp 600 triliun tapi dengan bunga 2,5%," jelasnya.

"Kita mengimbau BI ya 2,5% dong bunganya ini namanya sharing the pain," imbuhnya.

Menurutnya, jika uang yang dicetak banjir dan mengerek angka inflasi, BI bisa menaikkan giro wajib minimum (GWM) di tahun depan.

"Kalau nyetak uang Rp 600 triliun, kalau kemudian banjir inflasi terlalu tinggi, kan tinggal menaikkan GWM lakukan lagi tahun depan pengetatan," tutupnya.



Simak Video "Isu Dewan Moneter Mencuat, BI Bisa Tak Independen?"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/eds)