BRI Lepas Obligasi Rekap Rp 6 Triliun Tahun Depan
Selasa, 20 Des 2005 17:44 WIB
Jakarta - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) berencana menjual obligasi rekapitalisasi pada tahun depan sebesar Rp 6 triliun.Penjualan obligasi ini untuk menutupi gap antara kebutuhan kredit yang disalurkan dengan dana pihak ketiga yang terkumpul.Pertumbuhan dana kredit tahun depan diperkirakan sekitar 15-20 persen, sedangkan pertumbuhan dana pihak ketiga per tahun hanya mencapai 13 persen."Untuk menutupi gap tersebut diisi dengan pencairan obligasi," kata Wakil Direktur Utama BRI Wayan Alit Antara usai paparan publik di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (20/12/2005).Menurut Wayan, obligasi yang akan dicairkan adalah obligasi rekap dengan yield (tingkat imbal hasil) sebesar 12-13 persen. Obligasi tersebut akan dialihkan menjadi pinjaman dengan bunga 15-16 persen."Obligasi rekap termasuk surat utang negara (SUN) akan dikonversi menjadi pinjaman kredit dengan bunga 15-16 persen untuk menambah income," ujar Wayan.Sampai September 2005, obligasi yang telah dilepas senilai Rp 5 triliun. Sedangkan total obligasi yang dimiliki BRI sampai September 2005 sebesar Rp 17,193 triliun.Obligasi ini terdiri dari obligasi yang dipegang sampai jatuh tempo (hold to maturity) Rp 11,34 triliun, obligasi yang siap diperdagangkan (trading) sebesar 0,29 triliun dan obligasi yang siap dijual (available for sale) Rp 5,56 triliun."Setelah menjual Rp 6 triliun pada tahun depan, sisa obligasi akan sekitar Rp 11 triliun," kata Wayan.KinerjaBRI memperkirakan laba bersih sampai akhir tahun 2005 ini mencapai Rp 3,73 triliun.Namun menurut Dirut BRI Sofyan Basyir, jika tidak ada PBI Nomor 7 Tahun 2005 tentang provisi serta tidak ada kerugian akibat marked to market laba bersih diperkirakan mencapai Rp 4 triliun.Provisi yang disisihkan sampai September 2005 mencapai Rp 468 miliar. Sedangkan rugi marked to market sebesar Rp 300 miliar.Untuk tahun 2006, laba bersih diperkirakan tumbuh 8-10 persen. Sedangkan target kredit tumbuh 15-20 persen dengan porsi 60 persen untuk kredit usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).Sementara sampai akhir tahun 2005 target kredit akan mencapai Rp 78 triliun. "Kredit masih akan terfokus di UMKM, sepanjang tahun 2005, meski diterpa inflasi dan kenaikan harga BBM, UMKM sudah teruji," ujar Sofyan.
(ir/)











































