Strategi Perbankan Syariah di Era New Normal

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 02 Jun 2020 18:10 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Seluruh dunia usaha kini tengah bersiap untuk ikut menerapkan new normal dalam bisnisnya. Tidak terkecuali dengan perbankan syariah.

Ketua Komite Bidang Sosial dan Komunikasi Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Indra Falatehan mengatakan, pelaku perbankan syariah sepakat sudah saatnya diterapkan new normal. Sebab jika kondisi pandemi saat ini sudah hampir melumpuhkan roda ekonomi.

"Kita sepakat bahwa sekarang ini sudah masuk fase new normal. Kita tahu bahwa bagaimanapun ekonomi tidak bisa bertahan, harus tetap tumbuh. Jadi kill the virus but not the economy, kita harus bunuh virusnya tapi bukan ekonominya," ujarnya dalam diskusi MarkPlus Industry Roundtable secara virtual, Selasa (2/6/2020).

Indra menjelaskan ada beberapa strategi yang rata-rata disiapkan oleh perbankan syariah dalam era new normal. Pertama, perbankan syariah melakukan mitigasi risiko dengan cara restrukturisasi pinjaman dengan memilih secara hati-hati debitur yang layak utangnya direstrukturisasi.

"Pertama mitigasi risiko, yang dilakukan oleh bank pasti akan lakukan restrukturisasi. Kemudian kita akan mapping debitur kita semuanya mana yang layak direstrukturisasi dan mana yang belum layak," terangnya.

Kedua, Asbisindo sepakat, perbankan syariah tetap harus tumbuh. Oleh karena itu mereka akan fokus pada industri yang masih bisa memiliki prospek baik di tengah pandemi.

"Karena bagaimanapun bank ini tetap harus mengembalikan dana kepada para nasabah deposannya. Nah pada saat itulah bank harus tumbuh. Kita harus bisa memilih sektor usaha yang bisa eksis dan berkembang. Salah satu keunikan bank syariah kita bisa melakukan gadai emas. Ada beberapa bank syariah melakukan itu, saya lihat cukup tinggi juga angkanya," tambahnya.

Ketiga, perbankan syariah akan fokus mengembangan digital banking dan online banking. Kondisi pandemi Corona saat ini menguji layanan digital dan online banking perbankan syariah apakah benar dimanfaatkan oleh nasabahnya.

Keempat, perbankan syariah harus melakukan pendampingan kepada para debiturnya terutama UMKM. Mereka harus diberikan pendampingan untuk mempertahankan usahanya. Dengan begitu mereka masih bisa memiliki kemampuan untuk membayar kewajibannya.

Kelima, perbankan syariah mau tidak mau harus melakukan digital marketing. Kondisi pandemi memaksa semua pertemuan dilakukan secara virtual. Hal itu harus dimanfaatkan sebagai ajang untuk berjualan.

"Terakhir ini yang paling penting, para pemimpin perbankan syariah harus bisa agile leadership-nya, tidak bisa pakai cara yang lama. Kita harus cari cara yang baru sehingga kita bisa beradaptasi, karena yang menang saat ini bukan yang pintar tapi yang bisa beradaptasi," tutupnya.



Simak Video " Ini Aturan New Normal bagi Karyawan"
[Gambas:Video 20detik]
(das/dna)