Menebak Arah Bunga Acuan BI di New Normal, Tetap Atau Turun?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 18 Jun 2020 11:19 WIB
Logo Bank Indonesia
Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) hari ini akan mengumumkan hasil rapat dewan gubernur (RDG) periode Juni 2020. Suku bunga acuan atau BI 7 days reverse repo rate akan menjadi salah satu kebijakan yang diumumkan.

Kepala ekonom PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Ryan Kiryanto mengungkapkan saat ini BI memang memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga acuan hingga 25 bps.

Namun hal tersebut juga harus diiringi dengan realisasi inflasi yang rendah baik secara bulanan maupun tahunan. Kemudian secara teori jika suatu negara mengalami perlambatan perekonomian, salah satu instrumen yang efektif untuk mendongkrak sektor riil adalah dengan menurunkan bunga.

"Tapi dengan catatan ya, ini karena perlambatan ekonomi dan menyebabkan daya beli menurun. Tapi sekarang kan masalahnya itu non ekonomi dan murni karena pandemi dan kesehatan. Jadi kalau BI rate diturunkan seperti tidak memenuhi tujuan untuk meningkatkan sektor riil," kata Ryan saat dihubungi detikcom, Kamis (18/6/2020).

Dia mengungkapkan, dengan kondisi seperti ini BI diprediksi masih menahan suku bunga acuan dalam jangka pendek. Karena meskipun diturunkan tidak akan berefek apapun untuk sektor riil.

"Situasinya memang lagi susah, saat ini pertumbuhan kita sedang menuju ke -3,1% kalau BI rate turun itu tidak memberikan efek apa-apa jadi tidak ada pengaruhnya. Pilihannya hanya tahan atau turun," jelas dia.



Kepala ekonom PermataBank Josua Pardede memproyeksi BI memangkas bunga acuan 2 bps ke level 4,25%. Hal ini dengan mempertimbangkan beberapa indikator makroekonomi.

Misalnya, tekanan inflasi, khususnya inflasi dari sisi permintaan yang cenderung rendah mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat yang menurun tajam.

Data-data lainnya yang turut mendukung lemahnya konsumsi rumah tangga adalah penurunan tajam dari indeks kepercayaan konsumen, penjualan eceran, nilai tukar petani, penjualan otomotif yang mengindikasikan konsumsi masyarakat berpotensi mengalami kontraksi.

"Selanjutnya kedua perkembangan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek ini yang cenderung stabil ditunjukkan dengan volatilitas nilai tukar rupiah secara rata-rata menurun yang terindikasi dari one-month implied volatility yang menurun menjadi 13% sepanjang bulan Juni ini dari bulan Maret yang lalu sebelumnya sempat meningkat ke kisaran 33%," kata dia.

Penurunan volatilitas rupiah tersebut sejalan dengan penurunan volatilitas di pasar keuangan global sehingga arus modal asing terindikasi sudah kembali masuk ke pasar keuangan domestik terutama di pasar SBN sehingga mendukung penguatan nilai tukar rupiah sekitar 16% dibandingkan dengan posisi akhir Maret 2020 meskipun nilai tukar rupiah masih mengalami pelemahan sekitar 1,6% Ytd.



Simak Video "BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia Jadi 5% di 2021"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/eds)