BI: Rupiah Menguat karena Membaiknya Ekspektasi Inflasi
Rabu, 04 Jan 2006 17:35 WIB
Jakarta - Penguatan rupiah yang terjadi sejak awal tahun ini diyakni karena membaiknya ekspektasi inflasi. Bank Indonesia (BI) memperkirakan, sepanjang 2006 tingkat inflasi bulanan akan tetap terjaga rendah.Pada penutupan pasar valas Rabu ini, rupiah kembali menguat di level Rp 9.660 per dolar AS, yang merupakan level tertingginya dalam enam bulan terakhir."Penguatan rupiah kebanyakan karena ekspektasi inflasi yang baik, dan karena terjadinya deflasi pada Desember lalu," kata Deputi Gubernur Senior BI Miranda S Goeltom usai rakor kebijakan moneter di Departemen Keuangan (Depkeu), Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (4/1/2006).Miranda optimitis sepanjang tahun ini inflasi bulanan akan tetap rendah, walaupun untuk inflasi tahunan atau year on year masih akan tetap tinggi. Senada dengan Miranda, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani juga mengakui, terjadinya deflasi pada Desember, akan membuat ekspektasi inflasi akan semakin membaik.Namun Menkeu mengingatkan, inflasi pada tahun ini masih harus diwaspadai, mengingat adanya beberapa kenaikan yang terjadi seperti gaji PNS dan sejumlah tarif."Tren itu bisa terus membaik, tapi kita harus hari-hati karena ada beberapa kenaikan yang terjadi, baik dari sisi kenaikan gaji maupun tarif," ungkapnya.Kebijakan Moneter KetatSementara mengenai arah kebijakan ekonomi tahun ini, Gubernur BI Burhanuddin Abdullah mengatakan, untuk triwulan satu 2006 kebijakannya akan lebih ketat (tight bias policy).Sedangkan pada trilwulan II kebijakannya akan sedang atau netral, dan berlanjut pada triwulan III kebijakannya akan lebih diperlonggar.Mengenai kebijakan tentang tingkat BI rate, Burhanudiin mengatakan, hal tersebut baru akan dibahas pada rapat dewan gubernur (RDG) pada 9 Januari mendatang.
(ir/)











































