Eksportir Tetap Untung Meski Rupiah Menguat ke 8.500/US$
Sabtu, 14 Jan 2006 10:38 WIB
Jakarta - Penguatan rupiah tak pelak menjadi musibah bagi para eksportir. Namun para eksportir mengaku masih bisa mendapatkan untung meski rupiah menguat ke level 8.500 per dolar AS.Penguatan rupiah yang menyentuh level 9.370 per dolar AS pada penutupan Jumat (13/1/2006) tetap disambut baik oleh kalangan importir maupun eksportir.Hal tersebut disampaikan Ketua GINSI (Gabungan Importir Nasional Indonesia) dan GPEI (Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia) Amiruddin Saud dalam perbincangannya dengan detikcom."Kami menyambut baik bagi importir maupun eksportir, bagi eksportir Rp 8.500 per dolar AS pun masih dapat untung. Sedangkan bagi importir keuntungannya menjadi lebih besar karena bea masuk jadi turun," kata Amiruddin.Namun Amiruddin mengakui bahwa penguatan rupiah ini menurunkan margin keuntungan para eksportir hingga 7-8 persen. "Sementara importir dengan penguatan dari Rp 9.700 per dolar AS, keuntungan naik 5 persen. Importir mengharapkan semakin menguat semakin baik," tambahnya.Menurutnya, nilai tukar rupiah yang berimbang yakni menguntungkan eksportir dan importir adalah pada level Rp 9.000 per dolar AS. Ditambahkannya, pada tahun 2002 saat nilai tukar rupiah mencapai Rp 8500, nilaiekspor mencapai US$ 60 miliar.Sementara Dirjen Perdagangan Luar Negeri Diah Maulida berharap kinerja ekspor tidak akan terpengaruh oleh menguatnya nilai tukar rupiah. Menurutnya, untuk mengimbangi pelemahan rupiah, maka volume ekspor akan digenjot.
(qom/)











































