Meneg BUMN Sugiharto Jadi Dosen
Senin, 16 Jan 2006 14:15 WIB
Jakarta - Mengenakan jas hitam, Meneg BUMN Sugiharto tampak asyik memberikan kuliah di depan 100-an mahasiswa. Lho, sudah bosen jadi menteri, Pak?Bukan. Sugiharto hanya didaulat memberi kuliah perdana pada kelas baru pelatihan bagi analis kredit segmen korporasi dan analis kredit segmen menengah BNI. Pelatihan yang digelar di Gedung BNI, Jalan Lada No 1, Jakarta, Senin (16/1/2006) ini ditujukan untuk mencetak sumber daya manusia analis kredit di BNI yang handal dan profesional. Para peserta tampak tekun mendengarkan penjelasan dari Pak Menteri tersebut.Di depan para peserta kuliah, Sugiharto menjelaskan bahwa tahun 2005 adalah tahun kelabu bagi perbankan khususnya bank-bank BUMN. Hal ini terjadi karena perbankan merosot profitabilitasnya menyusul kebijakan PBI no 7/2/2005 tentang kualitas aktiva produktif."Memang ada perubahan kebijakan yaitu PBI No 7 yang mengakibatkan definisi NPL lebih ketat. Tetapi saya kira apa yang dilakukan BI dalam jangka panjang akan membuat perbankan lebih sehat dan lebih kuat," papar Sugiharto.Namun Sugiharto menegaskan, lebih baik memperketat pemberian kredit ketimbang kembali mengelami krisis perbankan. Ia menilai, jika terjadi krisis perbankan, dengan kondisi ekonomi yang sekarang, sulit untuk di-absorb oleh APBN 2006."RAPBN 2006 masih menimbulkan pertanyaan besar di antaranya soal subdisi listrik yang masih belum terjawab, soal asumsi harga minyak yang belum sesuai akan menimbulkan risiko diperbaharuinya APBN. Jadi ada beberapa faktor ketidakpastian dalam ekonomi makronya," papar pak dosen.Untuk mencapai rata-rata 6,6 persen per tahun, seperti yang ditargetkan dalam RPJM, pemerintah membutuhkan dana Rp 600 triliun. Sugiharto berharap BNI dapat memberi kontribusinya melalui penyaluran kredit. Saat ini posisi LDR BNI baru 60 persen dengan aset Rp 147 triliun. "BNI sebagai salah satu organisasi mikro dengan aset Rp 147 triliun, berarti masih punya 30-35 persen untuk diinvestasikan," harapnya.Ia berharap BNI dapat menyalurkan pinjamannya untuk kegiatan yang layak dan bankable serta menerapkan prinsip kehati-hatian. "Saya akan kecewa kalau BNI terus dirundung masalah seperti yang dikatakan Pak Dirut yakni ada 3 masalah soal LC, sekuritas dan temuan BPK. Itu harus dijawab dengan kinerja BNI," tandasnya.
(qom/)











































