Bank Syariah BUMN Merger Tak Jaminan Kinerja Baik, Ini Kuncinya

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Minggu, 18 Okt 2020 18:29 WIB
Deretan Infrastruktur yang Dibiayai Surat Utang Syariah
Foto: Dok. Kementerian PUPR
Jakarta -

Merger tiga bank syariah BUMN akan membawa bank syariah BUMN menjadi bank yang besar. Meski menjadi bank yang besar, itu bukan jaminan kinerjanya mengalami perbaikan.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah mengatakan, untuk memacu perbankan syariah dibutuhkan ekosistem syariah yang baik.

"Untuk memacu perbankan syariah tidak cukup adanya satu bank besar. Tetapi juga harus diikuti dengan pencitraan ekosistem ekonomi syariah yang lebih baik, perluasan dan peningkatan bisnis halal misalnya," katanya kepada detikcom, Minggu (18/10/2020).

Dia menenkan, upaya meningkatkan minat masyarakat terhadap layanan bank syariah tidak hanya cukup dengan menciptakan satu bank besar.

"Tetapi akan lebih efektif melalui peningkatan ekosistem bisnis halal," sambungnya.

Pengamat BUMN Toto Pranoto menilai potensi ekonomi syariah sangat besar. Namun, belum dimanfaatkan secara optimal.

Dia menerangkan, potensi zakat di data Baznas tahun 2017 disebutkan ada sekitar Rp 217 triliun per tahun. Namun, yang dimanfaatkan baru Rp 6 triliun hingga Rp 7 triliun per tahun. Di wakaf ada potensi wakaf tunai Rp 2 triliun hingga Rp 3 trilliun. Itu di luar wakaf dalam bentuk tanah dan properti.

"Secara umum kalau market share total bank syariah baru sekitar 6% dari bank kredit secara nasional. Maka potensi itu mestinya besar sekali. Jadi proses literasi perlu diperkuat sehingga publik makin familiar dengan produk syariah," jelasnya.

Sebagai informasi, adapun bank syariah BUMN yang bakal dimerger yakni PT Bank BRI Syariah Tbk (BRIS), PT Bank BNI Syariah dan PT Bank Syariah Mandiri (BSM). Merger ini ditargetkan terealisasi pada Februari 2021.

(acd/dna)