3 Kisah Pilu Nasabah Asuransi Bumiputera

Soraya Novika - detikFinance
Jumat, 23 Okt 2020 20:00 WIB
Kantor Pusat AJB Bumiputera
Foto: Soraya Novika/detikcom
Jakarta -

Nasabah Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 menanti klaim mereka yang tak kunjung cair meski sudah jatuh tempo bertahun-tahun lamanya. Sebagaimana diketahui, AJB Bumiputera 1912 memiliki potensi kewajiban pembayaran klaim sebesar Rp 9,6 triliun kepada ratusan nasabahnya.

Beberapa dari ratusan nasabah itu begitu bergantung pada pencairan klaim AJB Bumiputera 1912 tersebut. Oleh karenanya, mereka sampai rela menggelar aksi massa di depan gedung Wisma Bumiputera Rabu pagi kemarin demi mendapatkan hak mereka.

Berikut nasib pilu para nasabah terimbas klaim asuransi yang tak kunjung cair:

1. Anak Sampai Nggak Bisa Kuliah

Salah seorang nasabah korban gagal bayar AJB Bumiputera 1912 Faurina bercerita ia sudah mempercayakan dananya sampai 17 tahun. Namun, saat dibutuhkan dan sudah jatuh tempo malah tak bisa dicairkan. Padahal dana itu rencananya mau ia gunakan untuk membiayai kuliah anaknya.

"Saya sudah 17 tahun di Bumiputera, pas saatnya cair malah nggak ada, anak saya padahal sudah keterima di universitas favoritnya tapi nggak bisa diambil karena UKT (Uang Kuliah Tunggal), sampai nangis dia," ujar Faurina dengan mata yang berkaca-kaca kepada detikcom, Rabu (21/10/2020).

Akhirnya, sang anak diminta bersabar untuk kuliah di universitas lain dengan UKT yang lebih murah.

2. Anak nggak bisa bayar uang semesteran

Tak berhenti di situ, adanya pandemi COVID-19 ini membuat Faurina kesulitan membayar biaya kuliah anaknya karena gaji suaminya dipotong 50% dan hanya cukup untuk bertahan hidup saja.

"Terus di semester 3 ini, anak saya bayar UKT, tapi duit nggak ada. Akhirnya apa, saya minta pembebasan dari pihak kampus. Apalagi suami saya gajinya dipotong 50% selama pandemi ini. Anak saya nggak tau semester depan gimana kalau nggak cair juga, sampai segitunya," tuturnya.

Untungnya pihak kampus berkenan membebaskan biaya semester anaknya. Meski harus dilalui dengan tebal muka.

"Anak saya ngajuin diri untuk pembebasan uang semester, alhamdulillah UNJ mengabulkan. Sebenarnya malu, anak saya sampai ibaratnya mengemis ke direktorat tapi akhirnya bisa juga, kemarin UNJ telepon balik, anak saya bebas dan nggak tahu, mudah-mudahan, dia akan mencoba untuk dapat beasiswa, karena kan kita nggak tau pandemi ini sampai kapan," imbuhnya.

3. Sampai jual mobil buat bertahan hidup

Faurina mengatakan tak sedikit nasabah yang harus menjual harta bendanya demi bertahan hidup di tengah pandemi COVID-19.

"Kalau di grup itu sampai ada yang jual-jual barang, jual harta bendanya, sampai ada yang jual mobil," ucapnya.

(hns/hns)