SoftBank Lagi Gencar Nimbun Uang, Ada Apa Gerangan?

Soraya Novika - detikFinance
Rabu, 18 Nov 2020 10:14 WIB
SUN VALLEY, ID - JULY 08: Masayoshi Son, founder and chief executive officer of SoftBank, the chief executive officer of SoftBank Mobile, and current chairman of Sprint Corporation, attends the Allen & Company Sun Valley Conference on July 8, 2015 in Sun Valley, Idaho. Many of the worlds wealthiest and most powerful business people from media, finance, and technology attend the annual week-long conference which is in its 33rd year.  (Photo by Scott Olson/Getty Images)
Foto: Getty Images
Jakarta -

CEO dan pendiri SoftBank Masayoshi Son belakangan agresif menjual aset perusahaannya untuk jaga-jaga mempersiapkan diri menghadapi skenario terburuk yang mungkin terjadi dari munculnya gelombang kedua COVID-19.

Awalnya, ia menargetkan penjualan aset sekitar US$ 40 miliar setara Rp 560 triliun (kurs Rp 14.000/US$) saja. Akan tetapi akhirnya malah mencapai US$ 80 miliar setara Rp 1.120 triliun untuk disimpan dan dipakai perusahaan bila nanti terjadi keadaan yang darurat secara global.

"Dalam dua atau tiga bulan ke depan, bencana apapun bisa terjadi. Jadi kami hanya mempersiapkan skenario terburuk," ujar Son dalam acara The New York Times Dealbook Conference dikutip dari CNBC, Rabu (18/11/2020).

Di antara penjualan aset terbesarnya, SoftBank menjual perusahaan semikonduktor ARM ke Nvidia seharga US$ 40 miliar dan sekitar US$ 20 miliar sahamnya di T-Mobile, yang bergabung dengan Sprint awal tahun ini. Rencananya, jika pasar kembali turun, SoftBank mau menggunakan uang hasil penjualan aset tersebut untuk kembali membeli aset yang nilainya rendah, menopang portofolio investasinya di SoftBank Vision Fund atau membeli kembali lebih banyak saham lainnya.

Son enggan menjelaskan secara spesifik bencana seperti apa yang akan muncul beberapa bulan mendatang. Namun, ia sempat menyinggung keruntuhan Lehman Brothers tahun 2008, tentang bagaimana satu peristiwa itu dapat menjadi katalisator untuk kehancuran lainnya yang lebih luas.

"Apapun bisa terjadi dalam situasi seperti ini. Tentu saja, vaksin medis akan segera datang. Tapi siapa yang tahu dalam dua atau tiga bulan ke depan," sambungnya.

(fdl/fdl)