BI: Pengaruh Kenaikan Harga Minyak ke Rupiah Tak Signifikan
Jumat, 27 Jan 2006 15:55 WIB
Jakarta - Kenaikan harga minyak dinilai tak lagi signifikan mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah. Sebab, kebutuhan impor BBM kini semakin menyusut. "Kalau dulu harga minyak jauh lebih rendah daripada internasional, pengaruhnya ke rupiah tidak signifkan lagi," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aslim Tadjuddin di Gedung BI, Jl MH Thamrin, Jkarta, Jumat (27/1/2006).Pertamina dulu bisa mengimpor minyak hingga US$ 1,5-2 miliar. Namun seiring terus berkurangnya konsumsi, Pertamina akhirnya memutuskan untuk memangkas impornya hingga 20 persen pada tahun 2006 ini. Pernyataan Aslim ini berbeda dengan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah yang menilai lonjakan harga minyak bisa mengganggu nilai tukar rupiah.Aslim memperkirakan harga minyak relatif stabil di sekitar US$ 57-60 per barrel. Harga minyak yang sempat melambung tinggi terjadi karena krisis nuklir di Iran."Jadi orang khawatir saja kalau suplainya terpengaruh. Sebenarnya dari sisi permintaan, musim dingin di Eropa dan AS tidak sedingin yang diperkirakan, itu juga menolong harga minyak," jelasnya.Pergerakan rupiah saat ini praktis terjadi karena mekanisme pasar di pasar valas. penguatan Rupiah akan ditentukan oleh permintaan dan penawaran di pasar valas. "Yang kita harapkan kurs stabil sehingga pelaku pasar bisa merencanakan usahanya sebaik mungkin," katanya.Mengenai cadangan devisa, posisinya saat ini naik menjadi US$ 35,056 miliar. Peningkatan cadangan devisa ini bersumber dari ekspor minyak.
(qom/)











































