Usai Meroket, Harga Bitcoin Kini Anjlok 20%

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 12 Jan 2021 12:01 WIB
A bitcoin (virtual currency) coin placed on Dollar banknotes, next to computer keyboard, is seen in this illustration picture, November 6, 2017. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Foto: Reuters
Jakarta -

Harga nilai tukar Bitcoin anjlok lebih dari 20% pada hari Senin ke level US$ 31 ribu atau sekitar Rp 434 juta (kurs Rp 14 ribu/US$) per keping. Padahal, di hari Jumat lalu Bitcoin meroket harganya, bahkan menyentuh level tertinggi baru di angka US$ 42 ribu atau sekitar Rp 588 juta per keping.

Bitcoin memang mengalami kenaikan yang signifikan selama beberapa bulan terakhir. Tapi penurunan itu menyoroti bagaimana kenaikan yang menakjubkan itu telah meningkatkan peringatan bagi beberapa orang di Wall Street.

"Sangat menakutkan ketika harga bitcoin langsung naik. Kemunduran ini saya rasa dibutuhkan," kata James Putra, wakil presiden strategi produk untuk TradeStation Crypto, dikutip dari CNN, Selasa (12/1/2021).

Seorang ahli strategi di Bank of America Naeem Aslam, mencatat bahwa lonjakan Bitcoin baru-baru ini lebih besar daripada beberapa tren terkenal lainnya dalam beberapa dekade terakhir.

Misalnya, emas di tahun 70-an, teknologi dot-com di akhir 1990-an, dan perumahan di pertengahan 2000-an. Jadi penurunan dalam beberapa hari terakhir adalah koreksi sehat yang telah terjadi sejak lama

Bitcoin pertama kali melampaui level US$ 20 ribuan pada pertengahan Desember dan melonjak di atas US$ 30 ribuan awal bulan ini. Bahkan dengan penurunan selama akhir pekan dan Senin, nilai Bitcoin masih terpantau melonjak sekitar 300% dalam 12 bulan terakhir.

Aslam mengatakan dalam sebuah laporan bahwa bitcoin mungkin akan jatuh ke level US$ 28-30 ribuan sebelum mencapai titik terendah.

"Ini bukan waktunya untuk panik, tetapi untuk melihat peluang ini dari sudut pandang yang lebih optimis. Karena kenaikan belum berakhir, dan masih cenderung melakukan perjalanannya ke atas," kata Aslam.

Bitcoin dinilai memiliki masa depan yang baik apalagi dengan beberapa layanan pembayaran seperti digital Square (SQ) dan PayPal (PYPL) memungkinkan pengguna membeli dan menjualnya.

Daya tarik bertambah dengan terjunnya investor institusi top termasuk Paul Tudor Jones, Stanley Druckenmiller dan Anthony Scaramucci berinvestasi di dalamnya.

Seorang eksekutif puncak di BlackRock (BLK), manajer aset terbesar di dunia, baru-baru ini mengatakan Bitcoin dapat menggantikan emas sebagai aset utama yang dapat digunakan investor untuk melindungi nilai terhadap inflasi dan dolar yang lebih lemah.

(eds/eds)