Gubernur BI Terkagum-kagum oleh Penguatan Rupiah

Gubernur BI Terkagum-kagum oleh Penguatan Rupiah

- detikFinance
Selasa, 07 Feb 2006 18:59 WIB
Jakarta - Laju penguatan rupiah kini menjadi yang tercepat dibandingkan sejumlah mata uang lainnya. Efeknya, tekanan inflasi akan berkurang dalam beberapa pekan ke depan. "Penguatan rupiah ini sangat besar dan dalam beberapa bulan saya kira merupakan mata uang yang menjadi begitu kuatnya terhadap mata uang-mata uang lain," ujar Gubernur BI Burhanuddin Abdullah.Hal tersebut disampaikannya usai peresmian investor relations unit di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (7/2/2006).Namun Burhanuddin mengakui risiko terhadap ekspektasi inflasi yang cukup besar masih ada. Ekspektasi itu didorong oleh kenaikan harga minyak, harga komoditi dan tingkat pertumbuhan ekonomi global yang tidak begitu mengesankan.Oleh karena itu, BI berpandangan dalam beberapa bulan ke depan masih akan menerapkan kebijakan ketat. "BI masih berpandangan bahwa dalam bulan ini dan beberapa bulan ke depan, kita akan tetap tight. Dan tighness pada bulan ini masih tetap pada level 12,75 persen," ujar Burhanuddin. Burhanuddin menilai level BI rate saat ini masih baik dari sisi covered interest rate maupun uncovered interest rate yang masih cukup lebar sehingga inflow masih sangat besar. Inflow inilah yang mendorong penguatan rupiah yang berkelanjutan. "Karena itu penguatan rupiah berlanjut. Sebelum saya kesini sudah 9.180 per dolar AS," tambah Burhanuddin yang juga berharap rupiah semakin menguat. Mengenai hasil RDG yang menetapkan BI rate tetap 12,75 persen, Burhanuddin menjelaskan bahwa BI melihat perkembangan makro ekonomi yang cukup stabil dan inflasi pada bulan Janmuari yang masih bisa terjaga. "Memang sedikit lebih tinggi dari kebiasaan Januari tahun lalu 1,16 persen, sekarang 1,36 persen," katanya.Menurut Burhanuddin, tingginya inflasi tersebut dipicu oleh karena masalah kenaikan harga bahan makanan dan wacana kenaikan TDL, ekspektasi situasi yang bergejolak. Namun inflasi cukup terdorong oleh penguatan rupiah. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads