Resep Panjang Umur Gubernur BI
Rabu, 08 Feb 2006 15:42 WIB
Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah ternyata cukup maniak pada satu hal. Bahkan kegemarannya itu bisa-bisa dilakukan hingga tengah malam demi panjang umur. Penasaran?Membaca buku. Itulah hobi yang ditekuni oleh pemimpin otoritas moneter tertinggi di Indonesia ini."Saya biasakan membaca sampai jam 12 malam. Saya berniat berumur lebih panjang dari umur orang lain. Oleh karena itu saya memperpanjang tidur saya sampai jam 12 malam. Itu saya lakukan sampai umur saya saat ini," ungkap Burhanuddin.Resep tersebut disampaikan Burhanuddin saat peluncuran bukunya yang berjudul "Mencapai Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan, Jalan Menuju Stabilitas" terbitan LP3ES.Buku setebal 407 halaman tersebut diluncurkan di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (8/2/2006) dan dihadiri oleh sejumlah tokoh pers seperti Bambang Harrymurti, Andi F Noya dll.Pria kelahiran Garut 10 Juli 1947 ini pun mulai bercerita soal kegemarannya membaca ketika masa muda. Sejak berumur 17 tahun, Burhanuddin mengaku maniak terhadap karangan-karangan Hamka seperti "Tasawuf", "Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk", dll.Guna melampiaskan kegemarannya membaca, Burhanuddin pun menerjemahkan sejumlah buku berbahasa asing. Buku-buku terjemahannya telah diterbitkan oleh sejumlah penerbit terkemuka seperti Erlangga, LP3ES, dll.Selain menerjemahkan, Burhanuddin juga menyalurkan hobinya lewat menulis. Puluhan artikel Burhanuddin pun telah tersebar di berbagai media massa nasional. "Mudah-mudahan beberapa kumpulan artikel itu juga akan diterbitkan pada beberapa bulan yang akan datang," ujar Burhanuddin.Meski menjadi pemimpin otoritas moneter, namun Burhanuddin mengaku tidak hanya melulu membaca buku tentang ekonomi. Sejumlah buku pun dilahapnya, seperti filsafat, agama, sejarah, tata bahasa dll."Saya tidak melakukan pendekatan yang terlalu spesifik dari sisi ekonomi, tapi seringkali bisa pada hal-hal yang sifatnya budaya, tradisi, keyakinan dan keimanan," tambahnya.Pria yang sempat bercita-cita jadi novelis ini juga mengaku prihatin terhadap rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Ia mencontohkan dalam kasus buku paling populer saat ini, yakni Harry Potter. Pada awalnya, Harry Potter hanya dicetak 15 ribu eksemplar. Namun saking larisnya, novel tersebut dicetak ulang."Itu sangat membahagiakan. Tapi di Taiwan cetakan pertama sudah 300 ribu, dan di Indonesia baru 15 ribu, Artinya kebiasaan membaca kita itu perlu ditingkatkan," imbaunya.Mengenai buku yang ditulisnya, Burhanuddin dengan rendah hati menjelaskan, membaca buku berbeda dengan membaca kitab suci. "Kitab suci semakin dibaca semakin terasa kebenarannya, tapi buku yang kita buat, semakin dibaca semakin terasa kekurangannya," kata Burhanuddin.
(qom/)











































