Hot Money Game, Keperkasaan Rupiah Tak Tahan Lama

Hot Money Game, Keperkasaan Rupiah Tak Tahan Lama

- detikFinance
Rabu, 08 Feb 2006 17:22 WIB
Jakarta - Nilai tukar rupiah ternyata gampang sekali loyo. Gara-garanya, penguatan rupiah akhir-akhir ini hanya ditopang oleh hot money game yang biasanya tidak tahan lama. Alamak!Pada penutupan perdagangan Rabu (8/2/2006), rupiah akhirnya kembali terpelanting ke level 9.255 per dolar AS setelah pada penutupan kemarin rupiah menguat hingga level 9.185 per dolar AS.Chief economist BII Ferry Latuhihin mengatakan, penguatan rupiah terjadi karena masuknya aliran modal dari asing terkait tingginya real interest rate di Indonesia yang mencapai 4,75 persen.Modal asing juga diperkirakan masuk saat pemerintah mengeluarkan surat utang negara (SUN) pada 14 Februari 2006. Dengan tawaran yield yang tinggi, investor asing dipastikan akan berbondong-bondong memburu SUN itu. Dampaknya, rupiah akan kembali menguat.Namun ketika ekspektasi mencapai satu digit pada Oktober 2006 atau sekitar 8 persen secara year on year, maka yield obligasi akan turun. Suku bunga pun akan turun. Namun harga obligasi akan meningkat."Makanya penguatan rupiah hari ini tidak bakalan long lasting karena adanya hot money game," kata Ferry dalam pemaparan "Economy Outlook 2006" di Hotel Grand Hyatt, Jakarta.Real interest rate Indonesia yang saat ini mencapai 4,75 persen dipandang menjadi alasan pelaku pasar memburu Indonesia. "Inilah alasan kenapa investor asing masuk ke pasar obligasi lokal dan akan mendorong rupiah menguat dibandingkan dolar AS. Itu dalam jangka waktu dekat," tambahnya.Untuk jangka panjang, karena adanya penurunan ekspektasi inflasi, rupiah kembali cenderung melemah. Ferry memperkirakan rupiah hingga akhir tahun akan berada pada kisaran 9.900-10.000 per dolar AS.Faktor lain mengapa rupiah akan melemah dalam jangka panjang adalah karena pemerintah harus membayar utang sebesar Rp 30 triliun atau US$ 3 miliar dalam bentuk bunga dan pokok. Sementara utang korporasi mencapai US$ 5 miliar."Itu kan sudah US$ 8 miliar. Itu sudah high demand untuk cadangan devisa yang US$ 36 miliar. Jadi susah dari supply and demand," papar Ferry.Ferry menyarankan sebaiknya BI melonggarkan ketentuan mengenai Giro Wajib Minimum (GWM) atau dana yang harus disiapkan perbankan. Pada Oktober-November 2005, BI pernah menaikkan GWM untuk menahan kemerosotan rupiah sehingga likuiditas diserap melalui penyerapan cadangan ini."GWM itu alat untuk membuat ekonomi tidak overheating. Kebanyakan bank sentral di dunia ini meningkatkan GWM bukan untuk membela currency. Setelah rupiah menguat, kenapa tidak dilonggarkan," katanya.Ferry juga mengritik kebijakan BI yang meminta bank-bank getol memberi kredit pada sektor UKM. Menurutnya, kebijakan itu nonsense karena tiap perbankan punya segmentasi pasar yang berbeda-beda. "Memang ada bank yang khusus menangani UKM seperti Lippo, tapi yang lain kan beda-beda," tandasnya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads