Kredit Bank Rp 152 Triliun Tidak Tersalurkan di 2005

Kredit Bank Rp 152 Triliun Tidak Tersalurkan di 2005

- detikFinance
Rabu, 08 Feb 2006 17:58 WIB
Jakarta - Akibat tidak stabilnya kondisi ekonomi tahun lalu, dana perbankan yang menganggur karena tidak tersalurkan (undisbursment loan) sepanjang 2005 mencapai Rp 152 triliun.Angka ini lebih tinggi 16,9 persen dibanding jumlah kredit yang tidak tersalurkan pada tahun 2004 sebesar Rp 130 triliun.Demikian diungkapkan oleh Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Siti Ch Fadjrijah di sela acara peluncuran buku Gubernur BI Burhanuddin Abdullah "Mencapai Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan, Jalan Menuju Stabilitas", di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Rabu (8/2/2006).Melonjaknya undisbursment loan tahun lalu karena berbagai faktor, seperti masih banyaknya ekonomi biaya tinggi, kenaikan harga BBM yang berdampak pada inflasi yang cukup tinggi.Menurut Fadjrijah, meningkatnya kredit yang tidak tersalurkan ke sektor riil karena pengusaha masih menimbang-nimbang untuk melakukan ekspansi usaha. Hal ini karena tingkat bunga masih tinggi yang dapat berakibat pada munculnya beban usaha itu sendiri.Dijelaskan Fadjrijah, dengan tidak tersalurkannya kredit perbankan tersebut, maka secara langsung pendapatan dari perbankan berkurang.Perbankan akhirnya menaruh dananya di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) atau Surat Utang Negara (SUN) yang pendapatannya lebih rendah. Kondisi ini berdampak pada menurunnya tingkat profitabilitas perbankan."Kalau dia bisa disalurkan ke kredit kan income-nya tinggi karena bunga kreditnya lebih tinggi," ujarnya.Menanggapi tingginya dana kredit yang tidak tersalurkan oleh bank, ungkap Fadjrijah, BI akan tetap memberikan pengawasan dan peringatan terhadap bank-bank bagaimana prosedur penyaluran yang baik.Juga diingatkan batas maksimum penyaluran kredit dan bagaimana membuat evaluasi terhadap kualitas aktiva produktif."Jadi bagaimana bank itu me-maintenance risiko dalam pemberian kreditnya," cetus Fadjrijah. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads