Penguatan Rupiah Kurang Sehat

Penguatan Rupiah Kurang Sehat

- detikFinance
Kamis, 09 Feb 2006 14:56 WIB
Jakarta - Penguatan rupiah yang mencapai 7 persen dalam kurun waktu kurang dari dua bulan dinilai tidak sehat. Rupiah diprediksi baru akan mencapai titik keseimbangan dalam empat bulan ke depan."Minggu lalu ketika bicara dengan BI bahwa akan terjadi titik equilibrium dalam empat bulan ke depan, yakni mencapai keseimbangan yang riil," kata Ketua Kadin MS Hidayat di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (9/2/2006).Pada awal tahun 2006, rupiah masih bertengger di level 9.800-an per dolar AS. Namun seiring derasnya aliran dana yang masuk, rupiah pada pertengahan Februari ini sudah mencapai 9.200-an per dolar AS.Hidayat menjelaskan, penguatan rupiah saat ini berasal dari 'uang panas' dari dana-dana asing jangka pendek yang ditaruh di pasar modal pada awal tahun.Dana-dana itu digunakan untuk membeli beberapa saham unggulan sehingga dapat dengan mudah keluar lagi dari Indonesia."Itulah susahnya kalau investasi di pasar modal gampang sekali mereka quit kalau tidak bisa profit taking," tambah Hidayat.Sebenarnya, lanjut Hidayat, yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah masuknya investasi penanaman modal asing langsung. Namun hal itu masih sulit tercapai, mengingat kondisi makro Indonesia yang dinilai belum stabil.Menurut Hidayat, posisi rupiah yang stabil terutama untuk menjaga kepentingan ekspor nasional adalah di level 9.400-9.500 per dolar AS.Hidayat menyarankan, penguatan rupiah sebaiknya terjadi secara bertahap dan tidak perlu intervensi dari BI. "Penguatan rupiah itu gradual, tidak seperti sekarang ini sangat fluktuatif lonjakannya," tandasnya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads