Bank Sentral Israel Borong Rp 95 T Uang Asing, buat Apa?

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 08 Feb 2021 09:08 WIB
Tel Aviv City Hall is lit up with the flags of the United Arab Emirates and Israel as the countries announced they would be establishing full diplomatic ties, in Tel Aviv, Israel, Thursday, Aug. 13, 2020. In a nationally broadcast statement, Prime Minister Benjamin Netanyahu said the full and official peace with the UAE would lead to cooperation in many spheres between the countries and a wonderful future for citizens of both countries. (AP Photo/Oded Balilty)
Foto: AP Photo/Oded Balilty
Jakarta -

Bank of Israel menyatakan telah membeli US$ 6,832 miliar setara Rp 95 triliun (kurs Rp 14.020) mata uang asing atau valuta asing (valas). Hal itu dilakukan untuk mendongkrak mata uang Israel, shekel.

Dikutip dari Reuters, Senin (8/2/2021) pembelian valas itu baru sebagian dari rencana bank yang mengatakan akan membeli US$ 30 miliar valas pada 2021. Pada 2020 bank juga telah membeli US$ 21 miliar valas.

Nilai Shekel mencapai 3,11 per dolar pada 14 Januari 2020, level terkuat sejak April 1996. Sementara nilai cadangan valas juga kini mencapai rekor tertinggi US$ 179,5 miliar. Bank of Israel percaya shekel melonjak karena dolar yang lemah secara global.

Bank sentral Israel juga mengatakan telah membeli 4,2 miliar shekel obligasi pemerintah Israel bulan lalu sehingga totalnya sejak Maret menjadi 50,4 miliar shekel. Saldo pembelian obligasi korporasi tetap stabil di 3,5 miliar shekel.

Total pembelian itu juga masih sebagian kecil dari total yang rencananya akan dibeli sebanyak 85 miliar shekel obligasi pemerintah.

Kendati demikian, pemerintah melihat adanya arus investasi asing yang kuat ke Israel, surplus neraca berjalan luas, dan optimisme bahwa peluncuran vaksin COVID-19 yang cepat akan dengan cepat mengarah pada pemulihan ekonomi setelah tiga kali penguncian (lockdown).

(fdl/fdl)