Lagi Jadi Primadona, Bagaimana Cara Mendapatkan Bitcoin?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 22 Feb 2021 16:26 WIB
Ribuan Warga Australia Adukan Kasus Penipuan Bitcoin
Foto: Australia Plus ABC
Jakarta -

Harga Bitcoin belum berhenti meroket, dalam sebulan ini saja lebih dari sekali harga Bitcoin mencetak rekornya. Hal ini pun membuat mata uang kripto ini jadi salah satu opsi investasi yang menjanjikan.

Kini per kepingnya, dari catatan detikcom, Bitcoin telah menyentuh level Rp 800 juta. Dikutip dari Reuters, Senin (22/2/2021), harga Bitcoin naik ke US$ 58.354 atau Rp 816,9 juta per keping (kurs Rp 14.000).

Bagi masyarakat yang tertarik memiliki Bitcoin, ada dua cara yang bisa dilakukan. Pertama, bisa langsung saja membeli di situs yang menyediakan penukaran uang fisik dengan mata uang virtual.

Kedua, dengan cara menambangnya dengan sederet software dan pemecahan algoritma komputer. Cara ini juga membutuhkan perangkat komputer super canggih.

Mana yang lebih menguntungkan, beli langsung atau 'nambang' ya?

Menurut CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan, untuk saat ini menambang Bitcoin tidak terlalu disarankan. Pasalnya memakan modal sangat besar.

Apabila cuma punya modal Rp 10 miliar ada baiknya jangan menambang. Pasalnya, return alias pengembalian keuntungannya sangat kecil dan modalnya besar untuk membiayai teknologi. Jangka waktu menambangnya pun panjang.

"Saya sih mending beli ya, kalau menambang itu modalnya banyak, kalau cuma di bawah Rp 10 miliar jangan menambang, karena return-nya kecil sekali. Itu pun butuh jangka panjang dan teknologi yang intensif," ujar Oscar dalam siaran Podcast Tolak Miskin detikcom.

Di sisi lain, dengan membeli Bitcoin dan melakukan perdagangan menurutnya untungnya lebih mudah didapatkan. Modal puluhan ribu pun bisa digunakan untuk melakukan trading Bitcoin.

"Kalau sekarang trading mendapatkan modalnya Rp 10-20 ribu rupiah aja bisa untung juga," kata Oscar.

Di sisi lain, Oscar mengatakan kini untuk menambang Bitcoin makin sulit untuk dilakukan. Memang harga Bitcoin hasil menambang harganya lebih mahal, namun ada biaya operasional yang di belakangnya juga bertambah.

"(Menambang) Masih banyak dilakukan, karena dapatnya makin susah maka makin naik harganya. Simple-nya kalau makin susah kan harga listrik mereka makin naik, nah mereka akan menjualnya dengan lebih mahal," kata Oscar.

(hal/eds)