Faktor Demand Bikin Rupiah Loyo
Rabu, 22 Feb 2006 09:41 WIB
Jakarta -
Nilai tukar rupiah kembali memasuki 'musim' pelemahan memasuki akhir bulan, saat permintaan dari para importir dan korporasi kembali merangsek. Ditambah menguatnya dolar AS di pasar regional, rupiah semakin sulit untuk menguat.Pada awal perdagangan Rabu (22/2/2006), rupiah dibuka melemah di 9.267/9.272 per dolar AS. Rupiah diprediksi bergerak pada kisaran 9.230-9.300 per dolar AS.Sementara pada perdagangan kemarin, rupiah ditutup melemah di level 9.260 per dolar AS. Rupiah bahkan sempat menembus level terendahnya dalam dua pekan terakhir yakni 9.295 per dolar AS. Rupiah sempat merosot setelah adanya data Infrastructure Indonesia Outlook yang dikeluarkan Kantor Menko Perekonomian. Dalam data yang berisi proyeksi ekonomi Indonesia tahun 2006 itu, disebutkan bahwa nilai tukar rupiah diproyeksikan Rp 9.900 per dolar AS hingga akhir tahun. Sementara BI rate diprediksi menjadi 9,5 persen.Di pasar global, dolar berhasil terangkat setelah keluarnya rincian hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 31 Januari lalu. Dalam rincian disebutkan bahwa otoritas moneter AS itu membuka pintu untuk kenaikan suku bunga AS kembali. Tercatat euro melemah ke 1,1908 dolar, dibandingkan sebelumnya di level 1,1943. Dolar juga menguat ke 118,68 yen, dibandingkan level 118,23 yen.Dalam rincian pertemuan atau biasa disebut Fed Minutes itu disebutkan bahwa FOMC telah memutuskan untuk mengakhiri rangkaian kenaikan suku bunga AS. Namun tambahan beberapa kenaikan suku bunga kemungkinan masih diperlukan untuk mengimbangi tingkat inflasi.
(qom/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
