Laba Bersih Bank Niaga 2005 Turun 17,12%
Kamis, 23 Feb 2006 18:08 WIB
Jakarta - Laba bersih PT Bank Niaga Tbk (BNGA) sepanjang tahun 2005 mencatat penurunan 17,12 persen menjadi Rp 547 miliar dibandingkan tahun 2004 yang sebesar Rp 660 miliar.Penurunan ini karena pada tahun 2004 perseroan mengalami windfall profit dari penjualan obligasi sebesar Rp 120 miliar, sedangkan tahun 2005 tidak ada."Tahun ini juga terjadi penurunan laba karena tidak adanya nonrecurring profit akibat penjualan anak usaha di Hongkong tahun 2004," kata Presdir Bank Niaga, Peter B Stok dalam jumpa pers di Graha Niaga, Jalan Sudirman, Jakarta, Kamis (23/2/2006).Menurut Peter, jika penjualan anak usaha tersebut dikeluarkan dari pendapatan non-operasional 2004, maka tahun ini laba sebelum pajak Bank Niaga bisa meningkat 23,6 persen.Sementara pendapatan bunga bersih meningkat 25,71 persen menjadi Rp 1,726 triliun dibandingkan tahun 2004 yang sebesar Rp 1,373 triliun.Kredit yang disalurkan sepanjang tahun 2005 meningkat menjadi Rp 29,31 triliun atau naik 38,96 persen dibandingkan tahun 2004 yang sebesar Rp 21,092 triliun.Komposisi kredit paling banyak disalurkan untuk bisnis sebesar 42 persen, konsumer 32 persen dan sisanya korporasi sebesar 26 persen.Dana pihak ketiga (DPK) tahun 2005 mengalami pertumbuhan 39 persen menjadi Rp 34,378 triliun dibandingkan tahun 2004 yang sebesar Rp 24,733. Kinerja lainnnya, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 17,24 persen naik dibandingkan tahun 2004 yang sebesar 10,29 persen. Kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) netto naik 4,29 persen dibandingkan tahun 2004 yang sebesar 1,89 persen. "Kenaikan NPL ini akibat penyeragaman kolektibilitas yang dikeluarkan BI," ungkap Peter.Sedangkan rasio dana pihak ketiga terhadap kredit atau loan to deposits ratio (LDR) sebesar 85,35 persen dibandingkan tahun 2004 yang sebesar 85,37 perseb. Total aset tahun 2005 mencapai Rp 41,6 triliun dibandingkan tahun 2004 yang sebesar 30,8 triliun. Peningkatan aset ini, kata Peter, karena adanya beberapa aksi korporasi seperti penebitanm obligasi subordinasi US$ 100 juta dan right issue pada September tahun lalu untuk menaikkan CAR.Komposisi aset tersebut sebanyak 68,96 persen disalurkan ke kredit, Giro Wajib minium (GWM) 16,74 persen, surat utang negara (SUN) 8,83 persen, antar bank 3,87 persen dan sisanya dalam marketable securities 1,6 persen Kredit 2006Untuk tahun 2006, Bank Niaga menargetkan pertumbuhan kredit 20-25 persen atau sekitar Rp 6-7 triliun. Namun menurut Peter, pertumbuhan kredit ini masih mungkin direvisi pada semester satu jika kondisi ekonomi membaik.Pada tahun-tahun mendatang, menurut Peter, Bank Niaga akan memfokuskan diri pada kredit pemilikan rumah (KPR). Bank Niaga per Desember 2005 mencatat KPR 67 persen dari total kredit konsumer atau sekitar Rp 6 triliun.Rencananya tahun ini Bank Niaga akan meningkatkan porsi KPR di kredit konsumer menjadi 80 persen atau tumbuh sekitar Rp 2 triliun. "Karena potensi pasar KPR sangat besar," ujar Peter. Menurutnya, rasio KPR di Indonesia hanya sekitar 2-3 persen dari Produk Domestik Bruto atau Gross Domestic Product (GDP) dibanding Malaysia yang mencapai 29 persen. Apalagi NPl-nya rendah dibanding kredit lain.Pemegang saham Bank Niaga adalah Bumiputra Commerce-Holding Berhad 64,25 persen dan publik 35,75 persen.
(ir/)











































