BI Sudah Habiskan Rp 65 T, Borong Surat Utang Pemerintah di 2021

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 18 Mar 2021 15:23 WIB
BUMN percetakan uang, Perum Peruri dibanjiri pesanan cetak uang dari Bank Indonesia (BI). Pihak Peruri mengaku sangat kewalahan untuk memenuhi pesanan uang dari BI yang mencapai miliaran lembar. Seorang petugas tampak merapihkan tumpukan uang di cash center Bank Negara Indonesia Pusat, kawasan Sudirman, Jakarta, Senin (21/10/2013). (FOTO: Rachman Haryanto/detikFoto)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Sebagai upaya membantu APBN pemerintah, Bank Indonesia masih melanjutkan pembelian surat utang yang diterbitkan negara. Total sudah Rp 65 triliun dana yang dikeluarkan BI untuk membeli surat utang pemerintah.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, sepanjang 2020 BI sudah melakukan pembelian dari pasar perdana sebesar Rp473,42 triliun untuk pendanaan APBN 2020.

"Pada 2021 BI melanjutkan pembelian SBN dari pasar perdana untuk pembiayaan APBN Tahun 2021 melalui mekanisme sesuai dengan Keputusan Bersama Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia tanggal 16 April 2020, sebagaimana telah diperpanjang tanggal 11 Desember 2020, hingga 31 Desember 2021," terangnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (18/3/2021).

Untuk 2021 ini, BI sudah melakukan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar perdana hingga 16 Maret 2021 sebesar Rp 65,03 triliun. Pembelian SBN itu terdiri dari Rp 22,90 triliun melalui mekanisme lelang utama dan Rp 42,13 triliun melalui mekanisme Greenshoe Option (GSO).

Perry melanjutkan sejalan dengan kebijakan moneter akomodatif BI dan sinergi dengan kebijakan fiskal pemerintah untuk mendorong pemulihan ekonomi nasional, kondisi likuiditas di perbankan dan pasar keuangan tetap longgar.

Sejak tahun 2020, BI telah menambah likuiditas (quantitative easing) di perbankan sebesar Rp 776,87 triliun (5,03% dari PDB), terdiri dari Rp 726,57 triliun di 2020 dan Rp 50,29 triliun di 2021 (per 16 Maret 2021).

"Sinergi ekspansi moneter Bank Indonesia dengan akselerasi stimulus fiskal Pemerintah terus diperkuat dengan pembelian SBN oleh Bank Indonesia di pasar perdana," tutupnya.

(das/fdl)