Bank Jago Dikabarkan Mau Caplok BFI Finance, Begini Faktanya

Hendra Kusuma - detikFinance
Jumat, 16 Apr 2021 21:00 WIB
Bank Jago
Foto: Dok. Bank Jago
Jakarta -

Kabar rencana PT Bank Jago Tbk (ARTO) akan akuisisi PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) beredar di publik. Masing-masing pihak buka suara terkait kabar tersebut.

Informasi yang beredar di kalangan pelaku pasar menyebut BFIN dikabarkan akan diakuisisi oleh Bank Jago pada kisaran harga Rp 850- Rp 900 per saham sebagai angka potential tender offer.

Dikabarkan Bank Jago akan mengakuisisi saham mayoritas di BFIN yang dimiliki oleh Trinugraha Capital & Co Sca, merupakan konsorsium yang dipimpin pengusaha Garibaldi Thohir atau yang akrab disapa Boy Thohir. Berikut fakta-faktanya:


1. Komentar Bank Jago

Komisaris Utama Bank Jago Jerry Ng buka suara terkait kabar tersebut. Namun dia tidak membantah atau membenarkan hal itu.

"Aplikasi bank Jago diluncurkan kemarin. Fokus utama kami pada saat ini adalah Bank Jago. Mohon dukungannya untuk Bank Jago. Salam," kata Jery Ng saat dihubungi detikcom, Jumat (16/4/2021).

BFIN dimiliki oleh perusahaan Northstar Pacific yang dikendalikan Patrick Sugito Walujo. Sementara Patrick Sugito Walujo adalah salah satu investor Bank Jago.


2. Komentar Boy Thohir

Boy Thohir mengaku belum tahu soal kabar PT Bank Jago yang akan mengakuisisi PT BFI Finance Indonesia. Boy Thohir adalah pimpinan Trinugraha Capital & Co Sca yang merupakan konsorsium investor BFI Finance.

Boy justru meminta rencana tersebut dikonfirmasi langsung ke manajemen BFI Finance Indonesia.

"Belum ada rencana tuh, saya belum diajak bicara! Coba tanyakan ke direksi BFIN, terima kasih," kata Boy saat dihubungi detikcom.

Berdasarkan data keterbukaan, pemegang saham mayoritas BFIN adalah Trinugraha Capital & Co Sca dengan 42,81%, selanjutnya DB Spore DCS A/C dengan 8,25%, dan sisanya publik dengan 42,66%. Trinugraha Capital merupakan konsorsium antara Northstar Group Pte Ltd dan TPG Capital.


3. Bank Jago Rugi

Di tengah kabar aksi korporasi tersebut, ternyata kondisi keuangan Bank Jago sedang merugi. Pada laporan keuangan tahun 2020, emiten berkode ARTO ini rugi Rp 189,6 miliar. Angka rugi tersebut meningkat 61,7% dari periode tahun sebelumnya yang rugi Rp 117,2 miliar.

Jika dilihat lagi, sebetulnya Bank Jago berhasil membukukan pendapatan bunga sebesar Rp 90 miliar selama 2020. Angka ini meningkat 71,2% dari periode tahun 2019 yang sebesar Rp 52,6 miliar. Pada tahun 2020, beban bunga Bank Jago mencapai Rp 25,4 miliar.

Dengan begitu pendapatan bunga bersih Bank Jago tercatat Rp 64,6 miliar. Angka ini tercatat meroket 462,1% dibandingkan periode yang sebelumnya hanya Rp 11,5 miliar.

Bank Jago tercatat merugi dikarenakan memiliki beban yang cukup besar, yang paling besar adalah beban personalia yang mencapai Rp 157,7 miliar. Angka ini naik drastis dibandingkan periode 2019 yang sebesar Rp 26,8 miliar.

Beban yang lain adalah penyisihan penurunan nilai yaitu Rp 38,1 miliar, beban umum dan administrasi Rp 74,9 miliar, dan beban lainnya Rp 4,6 miliar. Dengan begitu Bank Jago membukukan rugi bersih mencapai Rp 189,6 triliun selama 2020.

Pada tahun 2020, liabilitas Bank Jago mencapai Rp 947,5 miliar atau meningkat 48,08% dari periode tahun 2020 yang sebesar Rp 639,8 miliar. Sedangkan aset, Bank Jago memiliki Rp 2,17 triliun atau naik 64,3% dari tahun 2020 yang sebesar Rp 1,32 triliun.

(hek/hns)