Citi Indonesia Buka Suara soal Kabar Cabut dari Bisnis Ritel

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 19 Apr 2021 08:15 WIB
CEO Citi Indonesia Batara Sianturi (tengah), Chief Financial Officer Citi Indonesia Warren Huang, Country Treasurer and Local Markets Treasury Head Citi Indonesia Suryadi Ong berbincang saat pemaparan kinerja Citi Indonesia di Jakarta, Senin (26/3/2018). Citibank Indonesia menutup tahun 2017 mencatat laba bersih sebesar Rp 2,51 triliun, meningkat 10% dari tahun sebelumnya, yang berasal dari pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 5,1% menjadi Rp 4,33 triliun.
CEO Citi Indonesia Batara Sianturi/Foto: dok. Citi Indonesia
Jakarta -

Kabar mengejutkan datang dari jaringan bank global Citigroup Inc. Citi berencana keluar dari bisnis perbankan ritel di 13 negara termasuk Indonesia.

Dilansir Bloomberg, Kamis (15/4/2021), bank ini akan mengoperasikan waralaba perbankan pada empat pusat pasar yakni di Singapura, Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan London.

Langkah ini merupakan bagian dari tinjauan berkelanjutan atas strategi perusahaan yang dipaparkan oleh Chief Executive Officer Jane Fraser, yang mengambil alih kepemimpinan bank itu sejak bulan lalu.

"Jadi kami ingin menangkap pertumbuhan yang kuat dan pengembalian menarik yang ditawarkan pada bisnis manajemen kekayaan melalui negara-negara penting ini," kata Fraser dalam pernyataannya.

Citigroup akan keluar dari bisnis perbankan ritel di Australia, Bahrain, Cina, India, Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Polandia, Rusia, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

Perusahaan akan tetap menawarkan produk di pasar tersebut kepada pelanggan dari kelompok klien institusionalnya, yang bisa menampung bank swasta, cabang manajemen kas, dan perbankan investasi serta bisnis perdagangan.

Terkait hal tersebut, Citi menyatakan tidak ada perubahan seketika dalam hal melayani nasabah consumer bank yang berada di Indonesia. Citi akan memulai proses penjualan bisnis consumer bank setelah adanya pengumuman bahwa Citi akan keluar dari bisnis consumer di 13 negara tersebut.

CEO Citi Indonesia Batara Sianturi mengatakan bahwa Citi memiliki bisnis consumer yang kuat dan menguntungkan di Indonesia. Citi akan berupaya untuk memberikan hasil yang sebaik mungkin bagi para nasabah dan karyawan.

Batara menambahkan bahwa proses penjualan akan membutuhkan waktu dan Citi akan mengupayakan proses strategi yang dilakukan secara prudent dan sistematis melalui koordinasi erat yang terus menerus dengan kantor pusat, pemangku kepentingan dan regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), serta akan memberikan informasi terkini bila ada perkembangan lebih lanjut mengenai proses yang dimaksud.

"Selama proses penjualan, kegiatan operasional bisnis consumer kami termasuk kantor cabang, call centers, serta layanan digital akan terus berjalan seperti biasa. Para nasabah kami akan tetap mendapatkan layanan yang berkualitas tinggi seperti yang selama ini mereka peroleh dari seluruh produk dan layanan kami," katanya dalam keterangan tertulis, Minggu (18/4/2021).

Kegiatan bisnis consumer banking Citi di Indonesia meliputi kartu kredit, kredit tanpa agunan, kantor cabang retail, layanan pengelolaan kekayaan (wealth management), layanan nasabah perbankan individual yang terdiri dari Citigold, Citi Priority, dan Citi Banking, layanan perbankan digital, bancassurance, dan layanan perbankan melalui telepon/CitiPhone, operasional consumer, dan lainnya.

Citi Indonesia akan terus beroperasi di Indonesia melalui unit Institutional Clients Group (ICG), antara lain TTS (Treasury and Trade Solutions), MSS (Markets and Securities Services/Custodian), BCMA (Banking Capital Market Advisory) untuk nasabah-nasabah institusional yang terdiri dari perusahaan lokal, pemerintah dan Badan Usaha Milik Negara, lembaga keuangan dan perusahaan multinasional, CCB (Citi Commercial Bank), dan layanan pasar modal melalui PT CSI (Citigroup Sekuritas Indonesia).

(acd/ara)