Gubernur BI Pamer Bunga Kredit Turun, Begini Datanya

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 21 Apr 2021 05:00 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Suku bunga kredit disebut sudah mulai mengalami penurunan. Hal ini sejalan dengan turunnya bunga acuan ke level 3,5% yang merupakan terendah sepanjang sejarah.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan bunga memang penurunan bunga kredit tidak secepat suku bunga dana. Namun untuk beberapa bank seperti bank BUMN dan sejumlah bank swasta sudah menurunkan bunga kredit.

Perry menyebutkan bank BUMN yang menurunkan suku bunga dasar kredit (SBDK) yang cukup besar yakni 266 bps menjadi 8,7%. Kemudian untuk bank swasta juga sudah ada beberapa yang menurunkan SBDK.

Oleh karena itu Perry mengajak untuk bank swasta lain dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) untuk menurunkan bunga kredit. Jika sudah turun maka akan berdampak pada bunga kredit mikro yang SBDK-nya masih double digit namun sudah mengalami penurunan.

Perry menyebutkan untuk SBDK kredit konsumsi KPR sudah turun 194 bps jadi 8,19%, SBDK Konsumsi non KPR turun 193 bps menjadi 9,25%, lalu SBDK korporasi turun menjadi 8,26%. Kemudian SBDK kredit ritel 136 bps menjadi 8,84%.

"Jadi ini bank bank udah ikuti penurunan SBDK-nya dan itu akan tercermin ke bunga kredit. Makanya terus akan kita dorong kita ajak dan minta ke perbankan untuk turunkan bunga kreditnya," ujar Perry.

Menurut dia untuk SBDK di perbankan ada beberapa komponen yaitu harga pokok dasar kredit cost of fund, overhead cost, dan margin keuntungan.

"Nah ini kami sampaikan dari komponen SBDK cost of fund-nya turun 120 bps, tapi overhead cost dan margin keuntungannya masing-masing 31 bps dan 21 bps. Artinya di sini efisiensi bank diperlukan agar memang overhead cost-nya diturunkan dan margin keuntungannya bisa maksimal," jelas Perry.

Perry menyampaikan BI berupaya untuk terus mendorong perbankan agar bisa segera menurunkan bunga kredit agar bisa mendorong peningkatan kredit di perbankan.

Data bunga kredit di halaman berikutnya.

Simak juga 'BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia Jadi 5% di 2021':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2