Serangan siber dengan skema ransomware ramai diperbincangkan setelah operator pipa minyak terbesar Amerika Serikat (AS), Colonial Pipeline dibobol. Kasus itu mengakibatkan kekurangan gas di beberapa bagian AS.
Pria bernama Eddy Willems yang bekerja di perusahaan asuransi, Belgia pada Desember 1989 menjadi orang yang pertama kali menjadi korban serangan ransomware. Skema itu tidak hanya membobol data komputer, pelakunya juga memeras korban dengan meminta uang tebusan.
Dikutip dari CNN, Senin (17/5/2021), lebih dari 30 tahun lalu, Willems diperintahkan untuk mengecek data di dalam sebuah disket yang dikirim melalui pos kepada peserta konferensi AIDS Organisasi Kesehatan Dunia di Stockholm. Bos Willems memintanya untuk memeriksa apa yang ada di dalamnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Password Akunmu Mudah Dibobol, Kenapa? |
Namun, saat membuka disket tersebut, Willems menjadi korban pertama ransomware. Beberapa hari setelah memasukkan disk, komputer Willems terkunci dan muncul pesan yang menuntut agar dia mengirim uang senilai US$ 189 setara Rp 2 juta (kurs Rp 14.192) saat ini.
Beruntungnya, Willems berhasil lolos dari hacker itu karena tahu bagaimana mengatasi serangan itu. Beberapa orang yang terkena serangan ransomware bisa kehilangan pekerjaan mereka.
"Saya tidak membayar tebusan atau kehilangan data karena saya menemukan cara untuk membalikkan situasi," katanya.
Setelah ditelusuri oleh penegak hukum, ternyata disket yang diterima oleh Willems milik seorang ahli biologi evolusioner lulusan Harvard bernama Joseph Popp, yang sedang melakukan penelitian AIDS pada saat itu. Dia ditangkap dan didakwa dengan berbagai tuduhan pemerasan, dan secara luas dikreditkan sebagai penemu ransomware.
"Bahkan sampai hari ini, tidak ada yang benar-benar tahu mengapa dia melakukan ini," kata Willems.
Beberapa laporan menunjukkan, Popp ditolak oleh WHO untuk mendapatkan kesempatan kerja. Setelah penangkapannya di Bandara Schiphol Amsterdam, Popp dibawa kembali ke Amerika Serikat (AS) dan dipenjarakan.
Dia juga diduga memberitahu pihak berwenang, dia berencana menyumbangkan uang tebusan untuk penelitian AIDS. Sebagai informasi, Popp meninggal pada tahun 2007. Kasus tersebut menjadi titik diskusi besar, dan warisan kejahatannya masih ada hingga hari ini.
Departemen Kehakiman AS baru-baru ini mengatakan 2020 hingga saat ini banyak terjadi serangan ransomware. Pakar keamanan yakin serangan ransomware terhadap perusahaan dan individu akan terus berkembang karena mudah dieksekusi, sulit dilacak, dan korban dapat dieksploitasi dengan uang yang banyak.
Lihat juga Video: AS Krisis Bahan Bakar Akibat Jaringan Pipa Diretas Hacker DarkSide