Laba Bersih BCA 2005 Tertolong Fee Based Income
Senin, 13 Mar 2006 18:22 WIB
Jakarta - Kemampuan PT Bank Central Asia (BCA) mengumpulkan dana fee based income (pemasukan di luar bunga kredit) masih yahud.Terbukti melejitnya fee based income tahun 2005 yang naik 21,1 persen menjadi Rp 1,486 triliun dibanding tahun sebelumnya Rp 1,227 triliun, masih menjadi penopang naiknya laba bersih.BCA membukukan laba bersih 2005 sebesar Rp 3,598 triliun, naik 12,6 persen dibanding tahun 2004 yang sebesar Rp 3,196 triliun."Kenaikan laba bersih pertama didorong oleh peningkatan fee based income dan kedua oleh meningkatnya pinjaman (kredit) sebesar 34 persen atau sekitar Rp 13,7 triliun," kata Direktur Keuangan Jahja Setiaatmadja.Hal itu diungkapkan Jahja dalam jumpa pers kinerja tahun 2005, di Mercantille Club, Wisma BCA, Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (13/3/2006).Pendapatan bunga bersih (net interest income) sebesar 16,2 persen menjadi Rp 7,653 triliun dibanding tahun 2004 yang sebesar Rp 6,585 triliun. Kredit tumbuh 34,1 persen menjadi Rp 54,1 triliun dibanding tahun 2004 yang sebesar Rp 40,360 triliun. Kredit konsumer tercatat mengalami pertumbuhan paling tinggi 47,4 persen karena didorong oleh peningkatan kredit pemilikan rumah (KPR) yang mencapai 71,4 persen.Dana Pihak Ketiga TurunMeski laba bersih mengalami peningkatan, namun BCA mengalami penurunan pengumpulan dana pihak ketiga (DPK) pada tahun 2005. DPK tahun 2005 hanya sebesar Rp 129,6 triliun, turun dibanding tahun sebelumnya yang sebesar Rp 131,6 triliun. "Ini akibat kebjikan moneter ketat, beberapa bank menawarkan suku bunga yang lebih tinggi, sementara kita tidak ikut-ikutan menaikkan suku bunga," kata Jahja.Namun Jahja optimistis, jika situasinya sudah normal DPK akan kembali tinggi .Rasio dana terhadap kredit (loan to deposits ratio/iLDR) 41,8 persen naik dari 30,6 persen. Non performing loan (NPL) gross 1,7 persen tahun lalu 1,3 persen. NPL net 0,8 persen tahun 2004 sebesar 0,6 persen. Sedangkan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) turun menjadi 21,5 persen menjadi 24 persen. Menurut Jahja, meski kondisi moneter tahun 2005 ketat, perusahaan tetap berupaya menjaga likuiditas. Ini dilakukan dengan menaruh secondary reserve di tempat yang gampang dicairkan seperti SBI dan repo.Untuk tahun ini target kredit BCA diharapkan tumbuh sekitar 40 persen. ATMJahja juga menjelaskan, pihaknya tidak keberatan melakukan interkoneksi dengan ATM bank lain. Yang perlu dipikirkan bagaimana pelayanan terhadap konsumen jangan sampai terganggu. "Kalau ATM tumbuh terlalu cepat dengan adanya ATM bersama, server kemungkinan down, jadi akan dilakukan secara bertahap," katanya. Selama tahun 2005, BCA menambah 955 ATM sehingga total menjadi 4.173 ATM. Sedangkan tahun 2006, BCA akan menambah sekitar 40 cabang baru dengan menyiapkan dana Rp 100 miliar. Setiap cabang baru biayanya Rp 2-5 miliar.
(ir/)











































