Pengin Tahu Gimana Dana Haji Dikelola? Cek di Sini

Nurcholis Maarif - detikFinance
Kamis, 10 Jun 2021 14:22 WIB
Bank Indonesia mencatat hingga akhir April 2013 jumlah uang kartal (uang tunai) yang beredar mencapai Rp 392,2 triliun. Menurut pejabat BI, kebutuhan uang tunai itu akan terus meningkat memasuki bulan Ramadan dan Lebaran mendatang. File/detikFoto.
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menegaskan pengelolaan investasi dana haji dilakukan dengan pertimbangan risk dan return yang optimal. Ini sebagai turunan dari dana haji yang harus dikelola secara syariah dan hati-hati. Lalu ke mana saja dana haji diinvestasikan?

Anggota Badan Pelaksana BPKH Beny Witjaksono menjelaskan dana haji diinvestasikan ke instrumen yang memiliki risiko rendah hingga moderat sesuai arahan peraturan pemerintah (PP). Adapun persentasenya yaitu, dana yang disimpan di bank syariah 30% dan sisanya untuk investasi sebesar 70%.

"Ke mana investasinya, kami putuskan yang pertama ke investasi langsung, lainnya, dan juga ke emas. Kalau itu tidak tercapai, kami ada di surat berharga yang merupakan komponen di mana kita bisa menetapkan dana tersebut," ujar Beny dalam siaran CNBC Indonesia TV, Kamis (10/6/2021).

"Kita tahu dalam perjalanan risk dan return tadi, surat berharga adalah paling kita bisa lakukan karena bisa diterima dalam jumlah besar, dalam waktu yang pendek. Dan juga kemudian effort kita bisa maksimal dengan sumber daya dan sarana dan prasarana yang dimiliki baru berdiri sejak 2017 kami langsung harus mengelola dana sebesar Rp 90 triliunan, ketika itu surat berharga menjadi pilihan terbaik," jelasnya.

Beny juga menjelaskan surat berharga yang dipilih ialah surat berharga syariah nasional (SBSN) yang memiliki porsi terbesar maupun korporasi. Lalu untuk imbal hasil dari investasi tersebut, baik dari penyimpanan dan investasi langsung, mencapai hampir 6%.

"Kami memiliki instrumen dua tadi, penempatan 30% memiliki proyeksi imbal hasil mengikuti rate 3,4%-an ketika kami masih belum terkecualikan pajak. Nah untuk surat berharga proyeksi sekitar 7,5-8%, karena masih dipotong pajak, ini belum tercapai. Nah kami paham dalam perjalanan rate imbal hasil cenderung menurun, tahun ini kami belum bisa mengejar ke angka itu. Kalau di-blending (dua instrumen tadi baru mencapai) hampir 6%-an," jelasnya.

Lebih lanjut Beny menjelaskan bahwa imbal hasil investasi dana haji tersebut sejatinya diamanatkan digunakan untuk menutup subsidi penyelenggaraan ibadah haji sebesar Rp 7-8 triliun setiap tahun. Makanya kalau imbal hasil dalam setahun itu mencapai sekitar Rp 8 triliun, 90% lebihnya digunakan untuk menutup subsidi tersebut.

"Yang kedua kami juga pakai untuk virtual account atau rekening haji jemaah yang belum berangkat, masa tunggu, itu kami sediakan. Per tahun lalu kami anggarkan Rp 2 triliunan, sekitar Rp 1,7 jutaan per jemaah yang menjelang berangkat. Yang keempat untuk operasional kami sekitar 5%, kami sejak menjalankan tugas 2017 belum pernah di atas 5% dan kami kembalikan," ujarnya.

Lebih lanjut Beny menegaskan dan meyakinkan masyarakat bahwa dana haji tidak ada yang digunakan langsung ke infrastruktur. Ia mengungkapkan bahwa posisi BPKH di sini sebagai investor.

"Bisa kita yakinkan ke masyarakat, tidak ada satupun yang kita salurkan ke infrastruktur. Pertanyaan memang berkembang SBSN apakah tidak (digunakan) langsung ke infrastruktur. Kami posisinya investor, investor itu ikut lelang-lelang Kemenkeu, kami sudah mengusulkan dana haji dioptimalkan untuk sarana ibadah haji, untuk kemaslahatan dana haji. Yang kita pahami yang SBSN itu yang menjalankan pemerintah. Kami mendapat penjelasan bahwa itu dioptimalkan bersama pelaksanaannya itu," pungkasnya.



Simak Video "Yuk Jadi Bagian dari BPKH yang Amanah Dalam Mengelola Dana Haji"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/hns)