Sudah Tiga Kali Ditahan, Bunga Acuan BI Hari Ini Naik Nggak Ya?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 17 Jun 2021 09:20 WIB
logo bank indonesia
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) hari ini akan mengumumkan hasil rapat dewan gubernur (RDG) bulanan. Suku bunga menjadi salah satu kebijakan yang dibahas dan akan diumumkan oleh bank sentral.

Sejumlah ekonomi dan bankir menyebut jika BI diproyeksi tidak akan mengubah besaran bunga acuan. Bunga diprediksi tetap 3,5%. BI menetapkan bunga acuan di level 3,5% sejak 18 Februari 2021.

Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengungkapkan tetapnya suku bunga ini menjadi pertimbangan BI karena masih dibutuhkannya tingkat bunga yang relatif rendah agar proses pemulihan ekonomi tetap berjalan.

"Sementara di sisi lain, sejalan dengan ancaman tapering dari bank sentral negara-negara maju, BI juga diperkirakan memilih untuk tidak menurunkan suku bunga lebih rendah dalam rangka menjaga stabilitas nilai tukar," kata dia dalam keterangannya, Kamis (17/6/2021).

Dia menyebutkan dalam jangka pendek, mengingat belum adanya sinyal kepastian dari The Fed terkait kebijakan tapering, diperkirakan BI masih akan cenderung mempertahankan suku bunganya hingga akhir tahun, beriringan dengan kebijakan akomodatif berupa QE, serta triple intervention untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Kemudian dalam merespon proses normalisasi kebijakan moneter BI, BI akan tetap mendorong terciptanya stabilitas nilai tukar dengan melakukan triple intervention di pasar spot USD/IDR, DNDF dan pasar obligasi sebelum mempertimbangkan normalisasi kebijakan moneternya, melainkan melalui langkah-langkah stabilisasi.

"BI diperkirakan baru akan menaikkan suku bunganya ketika The Fed sudah mulai memberikan sinyal kuat dan konfirmasi terkait normalisasi suku bunganya," jelas dia.

Selain itu, BI juga akan mengelola stabilitas perekonomian dengan mendorong pendalaman pasar keuangan termasuk pasar uang sedemikian sehingga kondisi likuiditas dapat terkelola dengan baik.

Selain itu, juga memperkuat kerjasama Bilateral Swap Agreement dengan bank sentral global dalam rangka memastikan likuiditas valas. Selain itu dengan memperkuat kerjasama Local Currency Settlement dengan bank sentral di regional Asia untuk mengurangi ketergantungan terhadap dollar AS.

Dengan kombinasi kebijakan tersebut, diharapkan kondisi likuiditas valas akan tetap terjaga yang berimplikasi pada cadangan devisa yang berada dalam level yang solid serta penguatan pendalaman pasar keuangan domestik diharapkan akan membatasi dampak negatif yang berpotensi ditimbulkan oleh normalisasi kebijakan moneter AS.

Lanjut halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2