Menkeu Prediksi Rupiah Tahun Depan 9.700/US$
Selasa, 21 Mar 2006 14:10 WIB
Jakarta - Pemerintah kembali memberi sinyal sulitnya posisi rupiah menembus di bawah level 9.000 per dolar AS. Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan asumsi rupiah tahun 2007 di level 9.700 per dolar AS, jauh di bawah posisi rupiah saat ini yang di level 9.125.Namun dengan posisi rupiah itu, pertumbuhan ekonomi tahun 2007 diprediksi akan mencapai 6,4 persen yang lebih tinggi dibanding tahun ini yang diproyeksikan 6,2 persen.Pertumbuhan tersebut dengan asumsi angka inflasi mencapai 6 persen, nilai tukar rupiah dipatok Rp 9.700 per dolar AS, suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) 7,5 persen, harga minyak US$ 55 per barel dan produksi minyak diperkirakan mencapai 1,040 juta barel per hari.Asumsi-asumsi makro tersebut disampaikan Sri Mulyani Indrawati dalam pidato di depan peserta Rakor Pembangunan Pusat di Gedung Bappenas, Jalan Taman Surapati, Jakarta, Selasa (21/3/2006).Pertumbuhan ekonomi juga akan dipengaruhi oleh stabilitas ekonomi makro yang terjaga, investasi yang meningkat di atas 10 persen, pembangunan infrastruktur yang mulai berjalan, ekspor nonmigas, dan program revitalisasi pertanian yang mulai menunjukkan hasil.Sedangkan angka inflasi akan dipengaruhi oleh harga minyak yang stabil, harga barang dan jasa yang dikendalikan pemerintah stabil dan kebijakan moneter yang terpadu.Meningkatnya cadangan devisa juga membuat Sri Mulyani optimistis, bahwa nilai tukar akan mencapai Rp 9.700 per dolar AS.Peningkatan cadangan devisa tersebut pertama, diperoleh dari ekspor nonmigas sebesar 8 persen, dan aliran modal asing (foreign direct investment) sebesar 25 persen.Kedua, faktor interest differential rate Indonesia masih kompetitif dibandingan negara lain. Ketiga, share capacity produksi minyak di negara-negara OPEC akan bertambah.Kurangnya produksi (lifting) minyak dipengaruhi oleh belum beroperasinya Blok Cepu, karena masih tingginya natural declining sumur minyak yang ada.
(ir/)











































