NPL Terus Naik, Laba Bersih Bank Mandiri 2005 Anjlok 89,5%

NPL Terus Naik, Laba Bersih Bank Mandiri 2005 Anjlok 89,5%

- detikFinance
Selasa, 21 Mar 2006 18:19 WIB
Jakarta - Laba bersih PT Bank Mandiri Tbk tahun 2005 anjlok hingga 88,5 persen menjadi Rp 603 miliar dibanding tahun sebelumya Rp 5,2 triliun.Penurunan laba bersih ini masih dipicu oleh membengkaknya kembali rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) akhir tahun 2005 menjadi 26,7 persen, dibanding tahun sebelumya 24,6 persen.Peningkatan NPL ini disebabkan oleh penurunan kualitas kredit Bank Mandiri dan juga adanya penerapan regulasi baru, tentang penilaian kualitas aktiva produktif dan kondisi ekonomi makro yang kurang kondusif pada triwulan IV-2005.Akibat meningkatnya rasio kredit bermasalah, Bank Mandiri tahun 2005 melakukan pencadangan penyisihan aktiva produktif (PPAP) hingga sebesar Rp 3,4 triliun.Demikian diungkapkan oleh Dirut Bank Mandiri Agus Martowardoyo dalam jumpa pers kinerja 2005 di Auditorium Plaza Mandiri, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (21/3/2006).Sementara pendapatan bunga bank naik 8,2 persen menjadi Rp 20,798 triliun dibanding tahun sebelumya Rp 19,213 triliun. Sedangkan beban bunga naik 24,4 persen menjadi Rp 12 triliun dibanding tahun sebelumya Rp 9,7 triliun.Pendapatan operasional lainnya atau fee based income tahun 2005 mencapai Rp 2,779 triliun, yang memberikan kontribusi 24 persen dari total pendapatan bunga.Total outstanding kredit yang disalurkan hingga tahun 2005 sebesar Rp 106,8 triliun, naik dibanding tahun sebelumya Rp 94,4 triliun. Sedangkan pertumbuhan kredit tahun 2005 sebesar 13,2 persen atau setara dengan Rp 12,4 triliun.Dana pihak ketiga tahun 2005 tumbuh 17,3 persen menjadi Rp 206 triliun dibanding tahun sebelumya Rp 175,8 triliun.Total aset mencapai Rp 263 triliun dengan modal inti dan pelengkap sebesar Rp 29 triliun atau setara dengan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) 23,65 persen. Sedangkan rasio dana terhadap kredit atau loan to deposits ratio (LDR) sebesar 51,8 persen.SPVAgus juga menjelaskan, bahwa manajemen saat ini terus berkonsentrasi untuk menyelesaikan 30 obligor terbesar dengan membentuk perusahaan special purpose vehicle (SPV).Selain membentuk SPV sebagai pengelola kredit bermasalah, Bank Mandiri juga akan melakukan lelang objek bersama dengan Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara (DJPLN). Ini dilakukan untuk mempercepat kredit bermasalah, serta memberikan efek jera kepada debitor yang tidak kooperatif.Agus juga mengeluhkan, sulitnya Bank Mandiri melakukan hair cut terhadap utang yang sudah dihapusbukukan seperti layaknya bank nonBUMN."Di bank swasta penyelesaian kredit bermasalah selain dilakukan restrukturisasi, reconditioning, rescheduling dengan cara yang sehat juga dapat memberikan hair cut," kata Agus.Oleh karena itu, menurut Agus, agar bank BUMN bisa bersaing perlu perubahan dari sisi regulasi untuk menyelesaikan kredit bermasalah.Agus juga menyoroti kredit Garuda yang macet. Menurutnya, jika pemerintah tidak memberikan langkah konkret maka di tahun 2006, Bank Mandiri akan sulit mencapai target sesuai rencana kerja anggaran perusahaan (RKAP). (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads