Surat Utang Ritel SBR010 Laku Keras, Pemerintah Kantongi Rp 7,5 T

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 19 Jul 2021 15:45 WIB
Pengembalian Uang Korupsi Samadikun

Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Toni Spontana (tengah) menyerahkan secara simbolis kepada Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Sulaiman A. Arianto (ketiga kanan) uang ganti rugi korupsi Bantuan Likuidasi Bank Indonesia (BLBI) dengan terpidana Samadikun Hartono di Gedung Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (17/5/2018). Mantan Komisaris Utama PT Bank Modern Samadikun Hartono terbukti korupsi dana talangan BLBI dan dihukum 4 tahun penjara serta diwajibkan mengembalikan uang yang dikorupsinya sebesar Rp 169 miliar secara dicicil. Grandyos Zafna/detikcom

-. Petugas merapihkan tumpukan uang milik terpidana kasus korupsi BLBI Samadikun di Plaza Bank Mandiri.
Foto: grandyos zafna
Jakarta -

Pemerintah meraup dana Rp 7.500.118.000.000 dari penerbitan surat utang ritel (saving bond ritel/SBR) seri SBR010. Angka itu melampaui target awal yang hanya sebesar Rp 5 triliun.

Kepala Seksi Perencanaan Transaksi SUN dan Derivatif Direktorat Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Herman Sary Tua mengatakan dana hasil penjualan SBR010 tersebut akan digunakan untuk memenuhi sebagian kebutuhan pembiayaan APBN 2021, termasuk untuk program penanganan pandemi COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional.

"Penerbitan SBR010 tersebut memecahkan rekor penerbitan SBN ritel non-tradable dari jumlah investor maupun dari nominalnya, baik dibandingkan dengan instrumen yang telah ditawarkan sebelumnya secara online maupun secara offline sebelum penggunaan sistem e-SBN di tahun 2018," katanya dalam keterangan tertulis dikutip detikcom, Senin (19/7/2021).

SBR010 merupakan surat utang ritel pertama yang diterbitkan di masa pandemi di mana seri ini terakhir diterbitkan pada Februari 2020. Walaupun diterbitkan dengan kupon terendah sepanjang penerbitan SBN ritel sejak 2006, animo masyarakat untuk membeli SBR010 dinilai sangat besar.

"Hal ini terbukti dengan target maksimal penerbitan SBR010 yang telah terpenuhi di dua hari sebelum penutupan masa penawaran SBR010. Terdapat 23.337 investor yang berinvestasi SBR010, di mana 9.068 (38,9% dari jumlah total investor) merupakan investor baru. Investor yang membeli SBR010 ini tersebar dari seluruh wilayah provinsi di Indonesia," jelasnya.

Pada penerbitan SBR010 kali ini, terdapat 1.316 Investor yang melakukan pemesanan dengan nominal Rp 1 juta. Angka itu jauh lebih besar dibandingkan dengan penerbitan SBR sebelumnya di 2020 yang mana hanya 886 investor yang melakukan pemesanan di Rp 1 juta.

Dari total jumlah investor SBR010 yang membeli di nominal Rp 1 juta, hampir seluruhnya merupakan generasi milenial (81%) dan didominasi oleh investor baru (65,6%).

"Hal ini mencerminkan terus meningkatnya kesadaran generasi muda untuk berinvestasi dan SBR010 menjadi instrumen yang tepat untuk mulai belajar berinvestasi," imbuhnya.

(aid/zlf)