Pencadangan Naik Tiga Kali, Bank Bumiputera Rugi Rp 48 M
Sabtu, 01 Apr 2006 15:44 WIB
Jakarta - PT Bank Bumiputera Tbk (BABP) membukukan kerugian sebesar Rp 48,1 miliar pada tahun buku 2005, dibandingkan tahun sebelumnya yang untung Rp 31,643 miliar.Rugi bersih yang dialami perseroan, karena adanya pembentukan pencadangan penyisihan aktiva produktif (PPAP) kredit sebesar Rp 84,7 miliar. Angka ini naik hampir tiga kali lipat dari pembentukan PPAP kredit yang dilakukan tahun lalu sebesar Rp 32,4 miliar.Pembentukan PPAP kredit tersebut dilakukan sejalan dengan penerapan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.7/2/PBI/2005, untuk meng-cover penurunan kualitas dari beberapa debitor yang memang sudah sejak lama bermasalah. Manajemen memutuskan untuk membentuk PPAP secara penuh dalam tahun 2005, agar pertumbuhan ditahun-tahun mendatang tidak lagi direpotkan dengan account-account bermasalah dari periode yang sebelumnya. "Kita ingin menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG) secara konsekuen baik dalam pola pikir maupun pola tindak," kata Ghazali Mohd Rasad, Presiden Direktur PT Bank Bumiputera Indonesia Tbk dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/4/2006). Jumlah kredit yang diberikan pada tahun 2005 naik menjadi Rp 3,133 triliun atau meningkat sebesar 18,42 persen dari tahun 2004 sebilai Rp 2,556 triliun. Peningkatan kredit ini terutama pada sektor consumer banking dan usaha kecil menengah (UKM).Dana pihak ketiga (DPK) naik menjadi Rp 3,78 triliun atau meningkat 24,8 persen dari tahun sebelumnya Rp 3,03 triliun. Bank Bumiputera mencatat rasio kredit bermasalah netto (NPL nett) sebesar 4,89 persen di tahun 2005. LDR di tahun 2005 menjadi 80,60 persen turun dari tahun sebelumnya 83,76 persen.Total aset perseroan hingga Desember 2005 mencapai Rp 4,317 triliun, meningkat 11,9 persen dari posisi tahun sebelumnya sebesar Rp 3,802 triliun. Rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 10,37 persen.
(ir/)











































