Miranda dan Obsesi Orkestra
Rabu, 12 Apr 2006 09:50 WIB
Jakarta - Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S. Goeltom ternyata diam-diam memendam sebuah obsesi. Ia pun rela menyisihkan waktunya disela-sela kesibukan mengurus masalah moneter demi obsesinya itu. Apa sih?Membuat orkestra Indonesia yang bisa dibanggakan di kancah internasional! Itulah obsesi Miranda yang kini tengah sibuk mengurusi Nusantara Symphony Orchestra (NSO). Tak tanggung-tanggung, Miranda pun menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) dari NSO.Keterlibatan Miranda mengurus NSO juga ternyata tidak terlepas dari obsesinya agar Indonesia memiliki orkestra yang bisa dibanggakan ditingkat internasional. Obsesi wanita yang gemar mengganti warna rambutnya itu muncul ketika dirinya sekolah di Boston, AS."Waktu sekolah di Boston saya (kerja) sambilan di Boston Symphony Orchestra. Saya jadi terpikir kapan Indonesia punya orkestra yang baik dan bisa dibanggakan," kata Miranda dalam konferensi pers di Gedung BI, Selasa (11/4/2006) sore.Diakui oleh dosen FE UI ini, upaya menempa sebuah orkestra agar menjadi berkualitas dan bisa dibanggakan sangat berat dan mahal. Hal tersebut dialaminya saat mengurus NSO sejak 1998. NSO yang sebelumnya bernama Nusantara Chamber Orchestra sempat vakum selama lima tahun dari 1998 sampai 2003. Baru selepas itu NSO dikelola secara profesional dengan musisi tetap yang berlatih secara rutin."Awalnya, pemain tetapnya di gaji bulanan supaya bisa berlatih rutin dan tidak kemana-mana mencari uang diluar. Biayanya mahal, tapi untuk orkestra yang baik," ujar wanita yang senantiasa tampil modis ini.Miranda pun memberi penilaian soal musisi-musisi Indonesia yang dinilainya memiliki potensi dan tidak kalah dibanding musisi-musisi asing. Syaratnya, musisi-musisi lokal itu dilatih secara konsisten dengan pelatih yang memadai.Upaya Miranda pun berbuah serangkaian prestasi yang diraih NSO. Salah satunya adalah NSO berhasil tampil di Tokyo Symphony Hall Oktober lalu dalam Asia Orchestra Week. Menurut Miranda yang mengaku baru menonton orkestra pada umur 12 tahun, hal tersebut membuktikan orkestra Indonesia sudah bisa disejajarkan dengan orkestra internasional yang berkualitas baik.Walaupun begitu bukan berarti kini sudah tidak ada tantangan yang harus dilalui NSO. Misalnya untuk menggelar pertunjukan orkestra minimal dibutuhkan dana paling sedikit Rp 350 juta. Dana tersebut sulit ditutupi dari penjualan tiket yang biasanya paling besar cuma sekitar Rp 200 juta. Padahal NSO biasanya tampil delapan kali dalam setahun."Untuk dana ada dari sponsor-sponsor kecil, untuk orkestra jarang ada yang mau jadi sponsor utama karena mahal. Biar kecil tapi banyak. Selain itu, kita masih didukung oleh friends of NSO," ujarnya.Kini NSO cukup mendapatkan apresiasi. Orkestra bertajuk "Giuseppe Verdi 'Requiem'" yang akan digelar Rabu (12/4/2006) malam, laris manis. Dari 950 tiket yang disediakan, sudah habis terjual sejak 4 hari lalu. Orkestra tersebut akan menghadirkan dua penyanyi opera dari Itali yang diiringi 100 choir (paduan suara) dan 80 musisi orkestra.Miranda juga mengingatkan supaya penontonnya tidak telat datang nanti malam. Karena kalau telat panitia takkan mengizinkan penonton untuk masuk."Memang saya sendiri suka telat kalau datang kemana-mana, tapi kalau untuk nonton orkestra saya enggak telat," ujar Miranda sambil tergelak.
(qom/)











































