Sulitnya Perjuangan Agen Bank di Kendal, Seberangi Sungai Pakai Getek

Jihaan Khoirunnisa - detikFinance
Minggu, 17 Okt 2021 10:08 WIB
Bertugas sebagai agen BRILink jadi tantangan tersendiri bagi Emi Farida. Setiap hari Emi seberangi sungai demi bantu warga di Kendal melakukan transaksi ekonomi
Sebelum menjadi agen BRILink, Emi dulunya adalah penjual ikan (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)
Kendal -

Transaksi perbankan jadi satu hal yang tak terlepas dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi warga Desa Gempolsewu, Kendal, Jawa Tengah. Namun, letaknya yang di pesisir membuat akses terhadap fasilitas perbankan cukup sulit.

Mereka harus menyeberangi sungai untuk bisa sampai ke kantor unit bank terdekat. Selain itu, belum adanya fasilitas jembatan membuat warga di sana harus menggunakan getek. Hal ini diakui oleh salah seorang warga Desa Gempolsewu bernama Emi Faridah.

Emi menyebut dirinya sempat terkendala saat harus melakukan transaksi seperti transfer, cek mutasi, hingga tarik tunai. Hal ini yang kemudian mendorongnya untuk ikut bergabung menjadi agen BRIlink.

"Saya sejak tahun 2018 jadi agen BRIlink. Awalnya nggak ada niat gabung karena dulu jadi penjual online shop. Terus sering ada kendala kalau mau cek mutasi rekening, jadi bolak-balik kantor BRI. Dari situ ditawari untuk gabung jadi agen BRIlink," katanya kepada tim detikcom baru-baru ini.

Tidak hanya mempermudah diri sendiri, Emi mengaku senang karena dengan menjadi agen bank dirinya bisa membantu para tetangga yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan dan pedagang ikan.

"Saya sedikit-sedikit belajar dan Alhamdulillah bisa mempermudah tetangga. Karena kalau mau ada transaksi, misalnya mendadak transfer nggak usah jauh-jauh nyebrang. Karena untuk sampai ke kantor BRI harus melewati pematang sawah, harus nyebrang pakai getek. Lumayan agak sulit jalannya, dan butuh waktu lama," jelasnya.

Bertugas sebagai agen BRILink jadi tantangan tersendiri bagi Emi Farida. Setiap hari Emi seberangi sungai demi bantu warga di Kendal melakukan transaksi ekonomiBertugas sebagai agen BRILink jadi tantangan tersendiri bagi Emi Farida. Setiap hari Emi seberangi sungai demi bantu warga di Kendal melakukan transaksi ekonomi Foto: Andhika Prasetia/Detikcom

Tak seperti agen bank pada umumnya, Emi mengaku kerap mendatangi langsung nasabah yang perlu melakukan transaksi perbankan. Dia juga mendapatkan jatah untuk menjaga pos BRIlink yang ada di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Tawang Gempolsewu mulai dari pukul 8 pagi hingga 5 sore.

Diungkapkannya dalam sehari dia bisa melayani transaksi dengan nilai mencapai lebih dari Rp 100 juta. Adapun kebanyakannya adalah transaksi tarik tunai yang dilakukan oleh tengkulak.

"Kebanyakan tarik uang. Kalau tengkulak nariknya banyak. Kalau di ATM kan ada limitnya, sementara di kita bisa banyak, nggak ada limitnya. Paling banyak sampai Rp 70-80 juta. Tiap hari kita modalnya Rp 100 juta lebih," tuturnya.

Lebih lanjut Emi bercerita pengalamannya sebagai agen BRIlink tidak selalu mulus. Pernah suatu malam turun hujan lebat ditambah air pasang yang membuat volume sungai naik. Getek pun tidak beroperasi karena takut akan arus sungai yang semakin deras.

Terpaksa, Emi harus berputar arah keluar ke jalan raya pantura dan masuk lewat Kecamatan Gringsing di Kabupaten Batang untuk bisa pulang ke rumah.

"Pernah, waktu itu banjir pas musim hujan. Biasanya air meluap dan nggak bisa nyebrang. Mau nggak mau muter lewat kabupaten Batang. Kalau nggak, ya nggak ada aktivitas. Muternya jauh banget sekitar 1 jam naik motor," jelasnya.

Bertugas sebagai agen BRILink jadi tantangan tersendiri bagi Emi Farida. Setiap hari Emi seberangi sungai demi bantu warga di Kendal melakukan transaksi ekonomiBertugas sebagai agen BRILink jadi tantangan tersendiri bagi Emi Farida. Setiap hari Emi seberangi sungai demi bantu warga di Kendal melakukan transaksi ekonomi Foto: Andhika Prasetia/Detikcom

Selain menjadi agen BRIlink, Emi mengatakan dirinya juga mendapat amanah untuk bertugas sebagai mitra untuk menyalurkan pinjaman UMi ke warga sekitar. Diketahui program pinjaman ultra mikro atau UMi baru berjalan di bulan April 2021 lalu.

Tujuannya untuk memberikan pinjaman yang bisa diakses oleh masyarakat yang membutuhkan dana mendesak. Dengan begitu diharapkan dapat membantu mereka agar terbabas dari jerat rentenir. Emi mengatakan bunga pinjaman UMi juga lebih rendah sehingga cukup menguntungkan masyarakat.

"Itu awal mulanya saya nawarin. Terus saya masuk ke komunitas. Nantinya saya survei tempat usaha. Saya harus tahu usahanya apa, pendapatan berapa, dan pengajuannya berapa. Kalau kira-kira nggak sesuai, nanti besar pinjamannya diturunkan. Kalau mengajukan Rp 10 juta, nggak pasti harus diberikan Rp 10 juta," pungkasnya.

Diungkapkan, hingga kini dirinya berhasil menggandeng 86 nasabah pinjaman UMi. Adapun total plafon yang berhasil disalurkan mencapai Rp 275 juta dalam kurung waktu 6 bulan. Dengan menjadi mitra UMi, dia juga mendapatkan pemasukan tambahan. Dalam sebulan Emi mengaku bisa mendapatkan hingga Rp 1,5 juta hanya dari penyaluran pinjaman UMi.

detikcom bersama BRI mengadakan program Sinergi Ultra Mikro di Bandar Lampung dan Semarang untuk memantau upaya peningkatan inklusi finansial masyarakat melalui sinergi BRI, Pegadaian, dan PNM dalam Holding Ultra Mikro. Holding Ultra Mikro berupaya mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan untuk peningkatan UMKM di Tanah Air. Untuk informasi lebih lengkap, ikuti beritanya di https://sinergiultramikro.detik.com/.

(ncm/ega)