BI: Penguatan Rupiah Tidak Rugikan Eksportir
Selasa, 18 Apr 2006 17:39 WIB
Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai, penguatan rupiah yang kini di posisi 8.980 per dolar AS tidak selalu merugikan eksportir. BI juga belum menerima keluhan dari para eksportir atas menguatnya rupiah ini."Rupiah yang menguat dan stabil ini tidak akan selalu merugikan eksportir. Eksportir itu juga kan bahan bakunya banyak yang impor jadi cost production akan turun," kata Deputi Gubernur BI Aslim Tadjudin di Gedung Departemen Keuangan (Depkeu), Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (18/4/2006).Menurut Aslim, untuk meningkatkan ekspor Indonesia, maka yang harus dilakukan saat ini adalah meningkatkan efisiensi dan menjamin kontinuitas dari barang-barang tersebut. Sebenarnya, lanjut Aslim, relative price yang disebabkan oleh kurs ini tidak terlalu signifikan untuk meningkatkan ekspor. Tapi yang terpenting adalah bagaimana rupiah yang menguat dan stabil ini bagus untuk ekonomi secara keseluruhan karena bisa menekan inflasi. Maka itu tegas Aslim, BI akan menjaga agar rupiah jangan terlalu volatil. "Kita juga menjaga fluktuasinya agar tidak terlalu tajam, karena kita menganut sistem nilai tukar yang mengambang. Let the market determine, biar pasar yang menentukan berapa nilai ekuilibrium price-nya," tutur AslimUntuk tahun depan Aslim optimistis, nilai tukar rupiah akan lebih baik dibanding tahun ini. "Saya optimistis tahun depan itu akan lebih bagus dari sekarang," katanya.
(ir/)











































