Rupiah Akan Menguat Hingga Akhir Tahun
Kamis, 20 Apr 2006 14:01 WIB
Jakarta - Rupiah diperkirakan masih akan menguat hingga akhir tahun. Penguatan rupiah seiring dengan perkembangan di sektor finansial yang terus baik.Membaiknya sektor finansial diindikasikan oleh penurunan inflasi inti. Perbedaan spread yang cukup besar antara SUN dan obligasi luar adalah faktor yang mendorong nilai wajar rupiah yang stabil."Dampak kenaikan harga BBM yang lalu cenderung naiknya inflasi. Tapi kenaikan sudah pada puncaknya di level 9,3 persen dan akan mulai turun," kata Ekonom Bank Mandiri Martin Panggabean di Plaza Mandiri, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (20/4/2006).Dikatakannya, penurunan inflasi akan mengakibatkan BI rate juga ikut turun sebesar 25 sampai 50 basis poin. Penurunan SBI direncanakan juga tidak akan berpengaruh jika The Fed menaikan suku bunganya."Hal ini karena rentang suku bunga antara The Fed dan SBI lebih besar dari rata-rata rentang sejak tahun 2000," ujarnya.Menurut Martin, SBI di akhir tahun bisa mencapai sampai 10 persen. Namun jika yang diperhatikan faktor domestik saja, SBI bisa turun sampai 9 persen saja.Akan tetapi kalau faktor pasar internasional diperhitungkan, SBI bisa turun sampai 10 persen dan juga akan mengamankan nilai rupiah.Selain itu, selisih bunga obligasi di Indonesia atau SUN dibandingkan dengan di luar negeri sangat besar. Untuk SUN dengan jangka waktu 10 tahun yield-nya sampai 12 persen dibandingkan dengan Filipina yang cuma 7,5 persen, sehingga akan mengundang investor asing untuk masuk.Selain itu, nilai wajar rupiah cenderung stabil karena indikator ekspor semakin baik dan keterbukaan pasar Indonesia cenderung stabil. "Periode over value rupiah kemungkinan berakhir pada kwartal terakhir tahun 2006," ungkapnya.Namun Martin juga menilai, di sektor finansial memang saat ini tengah baik, namun di lain sisi berbagai indikator di sektor riil justru sebaliknya.Menurut data dari Bank Mandiri leading economic indicator cenderung mulai menumbuhkan grafik penurunan. Antara lain penurunan impor yang berakibat pada rendahnya bahan baku mentah untuk industri manufaktur dalam negeri. Selain itu indeks ekspor juga mengalami penurunan."Sehingga saat ini terjadi miss match antara kinerja sektor finansial dengan kinerja sektor riil yang berpotensi menimbulkan tekanan terhadap stabilitas ekonomi dalam jangka pendek," kilah Martin.Martin menyarankan, institusi moneter seharusnya mulai menurunkan SBI agar sektor riil bisa kembali berjalan. Pemerintah diharapkan mulai menjalankan proyek besar untuk meningkatkan daya beli masyarakat. "Penurunan suku bunga tidak dominan untuk menyeimbangkan sektor riil dan sektor finansial," ungkap Martin.
(mar/)











































