BI: Perlu Ada Sale Untuk NPL
Senin, 08 Mei 2006 12:02 WIB
Jakarta - Kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) ibarat sebuah kanker yang menggerogoti perbankan. Ada 3 jenis 'obat' untuk menyembuhkan NPL. Salah satunya adalah dengan sale NPL. "NPL itu ibarat penyakit kanker. Karena NPL sangat inheren dengan bank. Tidak mungkin bank terlepas dari NPL," ujar Deputi Gubernur BI Siti Fadjrijah dalam sambutannya di seminar bertajuk 'Urgensi Penyelesaian NPL di bank BUMN' di Grand Hyatt, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (8/5/2006).Fadjrijah pun menggambarkan ganasnya kanker NPL itu. Jika suatu bank digerogoti NPL, maka pendapatannya akan turun. "Biaya atau pun provisi juga akan menjadi lebih besar dan mempengaruhi profitabilitas, sehingga menjadikan kesehatan bank dan ratingnya turun. Dan dapat menjadikan harga saham ban tersebut menjadi turun," urainya. Dan dengan besarnya NPL, maka risiko kredit akan meningkat dan akan mempengaruhi risiko secara keseluruhan. Fadjrijah pun memberikan 3 resep untuk penyelesaian NPL yakni dengan menjual ke pihak lain, mengalihkan ke Special Purpose Vehicle (SPV), atau ditangani sendiri oleh pihak bank dengan membentuk tim khusus kredit macet. "Dengan cara tersebut tentu saja penjualan atau penyelesaian kredit akan lebih murah atau lebih kecil dari harga buku. Toko saja dengan barang-barang lamanya akan melakukan obral atau sale," jelasnya. Berdasarkan data BI, angka NPL gross perbankan per triwulan I-2006 sebesar 9,7 persen atau lebih besar dari NPL gross pada tahun 2005. Fadjrijah menjelaskan, penyalurah kredit perbankan pada kuartal I sangat lambat pertumbuhannya, dan belum sesuai dengan yang ditargetkan. Fadjrijah mengharapkan, aturan NPL untuk perbankan diharap segera keluar sehingga NPL bank-bank BUMN segera turun.
(qom/)











































